NUSANTARA TERKINI — Ambisi Pemerintah Kota Bontang untuk mencapai target zero pengangguran dalam lima tahun ke depan menghadapi tantangan besar di sektor komunikasi dengan dunia usaha.
Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris (AH) menyentil masih minimnya keterbukaan perusahaan terkait proyeksi kebutuhan tenaga kerja, yang berakibat pada sulitnya penyiapan sumber daya manusia (SDM) lokal yang sesuai standar industri.
Berdasarkan data BPS Kaltim per Agustus 2025, Bontang masih memegang predikat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi di Kaltim sebesar 6,36 persen.
Kondisi ini dipicu oleh ketimpangan antara jumlah pencari kerja dengan lapangan kerja yang tersedia.
Pentingnya Transparansi Data Industri
Agus Haris menegaskan bahwa kunci utama untuk menekan angka pengangguran adalah ketersediaan data kebutuhan tenaga kerja dari perusahaan. Tanpa data tersebut, intervensi pelatihan yang dilakukan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) berisiko tidak tepat sasaran.
Selama ini, pemerintah daerah seringkali kesulitan memetakan kualifikasi apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh sektor industri di Bontang. Akibatnya, kurikulum pelatihan terkadang tidak sinkron dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Perusahaan harus membuka diri. Kalau kami tidak tahu apa yang mereka butuhkan, bagaimana kami menyiapkan SDM-nya,” tegasnya.
Evaluasi Pelatihan Berkelanjutan
Meski meminta keterbukaan, Agus memastikan pemerintah tidak akan mencampuri proses seleksi internal perusahaan. Standar perekrutan sepenuhnya tetap menjadi otoritas pihak manajemen sesuai kebutuhan masing-masing.
Peran pemerintah, lanjutnya, adalah menjamin kualitas calon tenaga kerja melalui pelatihan yang terus dievaluasi. Bagi warga yang belum lolos seleksi di perusahaan, Pemkot berkomitmen memberikan pelatihan tambahan agar mereka lebih siap bersaing di kesempatan berikutnya.
“Yang belum lolos, kami latih lagi. Sinergi ini yang penting agar target kita tercapai,” sebutnya optimis.
Kontribusi Program Makan Bergizi Gratis
Di sisi lain, tren penurunan angka pengangguran mulai menunjukkan sinyal positif, salah satunya didorong oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini secara bertahap mulai menyerap ratusan tenaga kerja lokal di berbagai unit operasional.
Dari perhitungan sementara, 19 unit program MBG yang telah berjalan mampu menyerap sekitar 570 tenaga kerja. Jika program ini terus berkembang sesuai target, serapan tenaga kerja diperkirakan mampu menembus angka seribu orang.
“Program MBG punya pengaruh besar. Selain menyerap tenaga kerja, dampaknya juga terasa langsung ke ekonomi masyarakat,” pungkasnya.(*/Rusdino/NT)





