Baturunan Perau, Pemkab Berau Dorong Tradisi Banuwa Jadi Daya Tarik Wisata Budaya

diterbitkan: Sabtu, 19 September 2026 01:53 WITA
Tradisi Baturunan Perau yang kembali digelar pada peringatan HUT Berau tahun ini. (Foto: Zuhri/NT)

NUSANTARA TERKINI – Berbagai kegiatan digelar pada rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Berau dan ke-216 Tanjung Redeb tahun ini.

Salah satunya tradisi Baturunan Perau. Prosesi adat dan budaya masyarakat Berau ini ditandai dengan menurunkan perahu ke perairan di depan Museum Batiwakkal.

Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis mengapresiasi atas kembali digelarnya tradisi Baturunan Perau sebagai bentuk kecintaan dan upaya merawat kekayaan budaya masyarakat suku Banuwa ini.

“Baturunan Perau ini mencerminkan nilai gotong royong sebagai bentuk kebersamaan masyarakat yang hidup rukun dan damai,” kata Wabup Gamals.

Baca juga  Kabut Asap Kian Pekat Picu Kenaikan ISPA, Gamalis Imbau Warga Berau Kurangi Aktivitas Luar Ruangan

Lebih dari sekedar menjaga kelestarian budaya, tradisi Baturunan Perau ini juga bagian dari upaya pengembangan pariwisata Bumi Batiwakkal— nama lain dari Berau.

“Pemerintah Kabupaten Berau mendorong gar tradisi Banuwa ini dapat menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Kabupaten Berau,” tuturnya.

Sebagai bentuk pelestarian budaya daerah, Pemkab Berau berkomitmen untuk memberikan dukungan, termasuk dari sisi kebijakan. Ini sejalan dengan arah pembangunan daerah yang salah satunya fokus terhadap pengembangan sektor pariwisata.

Baca juga  Salinitas Air Tambak di Atas Normal, Diskan Berau Pastikan Budidaya Udang Windu Tetap Aman

Harapannya, kegiatan Baturunan Perau yang digelar dalam situasi yang tidak mudah ini dapat dijadikan momentum untuk memperkenalkan tradisi budaya daerah terhadap generasi penerus agar keberadaannya tidak hilang.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yuda Budi Santosa menambahkan, tradisi Baturunan Perau merupakan representasi dari semangat gotong royong serta bagian dari bentuk penghormatan terhadap adat dan budaya.

Baca juga  Anggaran Daerah Seret, Pemkab Berau Bakal Tarik Uang Parkir di Tepian Ahmad Yani

“Jadi tidak sekedar menurunkan perahu ke perairan, tapi ada makna yang tercerminkan dari pelaksanaannya. Ada nilai gotong royong, kebersamaan, penghormatan terhadap tradisi, serta hubungan antara masyarakat, lingkungan dan sumber daya perairan,”

Harapannya, perkembangan zaman yang terjadi begitu pesat saat ini jangan sampai membuat masyarakat melupakan budaya dan identitas dari masyarakat lokal itu sendiri. Untuk itu, perlu adanya regulasi khusus untuk memayungi warisan budaya ini. (*/adv)

Bagikan:
Berita Terkait