NUSANTARA TERKINI – Kasus asusila memilukan kembali mengguncang Kabupaten Berau. Seorang oknum tenaga pendidik berinisial A diringkus jajaran Satreskrim Polres Berau setelah terbukti melakukan aksi pencabulan terhadap siswinya sendiri yang merupakan anak berkebutuhan khusus (disabilitas).
Tersangka yang juga dikenal sebagai oknum imam masjid di salah satu lingkungan di Kecamatan Tanjung Redeb ini, diamankan petugas tepat setelah melaksanakan Salat Isya pada Selasa (5/5/2026).
Manfaatkan Momen Pulang Sekolah
Aksi bejat tersebut dilakukan tersangka di lingkungan sekolah dengan memanfaatkan situasi yang mulai lengang. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku menyasar korban saat jam pelajaran telah berakhir dan suasana kelas mulai sepi dari aktivitas siswa lainnya.
Kasubsipenmas Iptu Muhammad Kasim Kahar mengungkapkan, pelaku menggunakan modus yang sangat licin untuk mendekati korban.
Tersangka diduga meraba area sensitif korban saat momen “salim” atau mencium tangan guru yang biasa dilakukan siswa saat berpamitan pulang sekolah.
“Perbuatan itu terjadi berulang kali. Pelaku melakukannya terutama saat suasana kelas sudah sepi, bahkan memanfaatkan momen salim dengan mencium tangan korban,” jelas Kasim pada Rabu (6/5/2026).
Kepolosan Korban Bongkar Kedok Pelaku
Terungkapnya kasus ini bermula dari kecurigaan sang ibu yang mendengar kabar miring mengenai perilaku tersangka.
Saat dikonfirmasi langsung oleh ibunya pada Sabtu (2/5/2026), korban yang memiliki keterbatasan tersebut menceritakan secara polos tindakan tidak senonoh yang dialaminya selama ini.
Mendengar pengakuan sang anak yang mengaku sering diraba di area sensitif oleh oknum guru tersebut, pihak keluarga pun segera melapor ke Mapolres Berau.
Sempat Mengelak dari Petugas
Dalam proses penyidikan, tersangka A sempat berkali-kali mengelak dan tidak mengakui perbuatannya. Namun, berkat keuletan serta bukti-bukti yang dikumpulkan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Berau, pelaku akhirnya tidak berkutik dan mengakui semua perbuatannya.
“Pelaku sempat tidak mengaku, namun setelah dilakukan pemeriksaan berulang, akhirnya mengakui perbuatannya,” tambah Kasim.
Polisi sangat menyayangkan kejadian ini mengingat latar belakang tersangka yang merupakan tokoh agama sekaligus guru yang seharusnya menjadi pelindung bagi siswa, terutama anak disabilitas.
Saat ini, korban yang mengalami trauma mendalam telah mendapatkan pendampingan dari pihak terkait, sementara kepolisian masih mendalami kemungkinan adanya korban lain dalam kasus ini.(Ika/NT)






