Semarak Lomba Ancur Paddas dan Festival Kue Tradisional, Hari Jadi Berau Jadi Ajang Lestarikan Warisan Leluhur

diterbitkan: Rabu, 23 September 2026 01:40 WITA
Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat menghadiri Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul, serta Festival Kue Tradisional di Lapangan Pemuda, Rabu (23/9/2026).
Wakil Bupati Berau, Gamalis, saat menghadiri Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul, serta Festival Kue Tradisional di Lapangan Pemuda, Rabu (23/9/2026).

NUSANTARA TERKINI — Peringatan Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan ke-216 Kota Tanjung Redeb kembali semarak lewat berbagai ajang seperti Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul, serta Festival Kue Tradisional di Lapangan Pemuda, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau ini diikuti dengan antusias oleh organisasi wanita se-Kabupaten Berau dan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Salah satu momen paling dinanti warga adalah tradisi berebut jajan tradisional yang disediakan panitia, menciptakan suasana kebersamaan dan kehangatan lintas generasi di Bumi Batiwakkal.

Baca juga  Disbudpar Berau Harap Hutan Pulau Besing Tetap Asri, Jaga Habitat Asli Bekantan

Wakil Bupati Berau, Gamalis, menegaskan, kekayaan kuliner khas Berau bukan sekadar urusan cita rasa, melainkan identitas budaya yang wajib dilestarikan sekaligus didorong menjadi penggerak ekonomi warga.

“Lomba Ancur Paddas, Puncak Rasul, dan Festival Kue Tradisional ini adalah upaya kami melestarikan kuliner, makanan khas, dan tradisi yang menjadi kekayaan budaya Berau. Semoga tidak hanya menjadi bagian dari wisata, tetapi tumbuh menjadi peluang usaha bagi para pelaku UMKM, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat pariwisata daerah,” ujar Gamalis.

Baca juga  Antisipasi Membludaknya Wisatawan Libur Panjang, Disbudpar Berau Perketat Pengawasan Derawan dan Labuan Cermin

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budi Santosa, menambahkan, Ancur Paddas dan aneka kue tradisional merupakan warisan sejarah sejak era kesultanan. 

Nilai, bahan, hingga tata cara penyajiannya sarat akan filosofi yang patut diperkenalkan kepada generasi muda.

“Makanan seperti ini biasanya hadir di syukuran, peringatan hari besar Islam, Maulid Nabi, dan acara sakral. Melestarikan kue tradisional bukan sekadar menjaga rasa, melainkan menjaga nilai, sejarah, dan jati diri kita agar tetap dikenal anak cucu kelak,” terangnya.

Baca juga  Aplikasi Jelajah Berau Bikin Liburan Jadi Lebih Mudah

Kemeriahan pesta rakyat ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah era modernisasi, Kabupaten Berau terus merawat tradisi leluhur agar tetap hidup, dibanggakan, dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat. (*/Adv)

Bagikan:
Berita Terkait