Nilai Ekonomi Lebih Menjanjikan, Pemkab Berau Tunda Roadmap Jagung Demi Fokus Kakao dan Kelapa

diterbitkan: Rabu, 25 Februari 2026 10:18 WITA
Foto: Focus Group Discussion (FGD) penyusunan draf awal peta jalan (roadmap) hilirisasi komoditas kelapa dan kakao yang digelar Diskoperindag Berau.

NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) menetapkan skala prioritas dalam pengembangan industri hilir daerah. Meski memiliki potensi besar, komoditas jagung untuk sementara waktu harus “mengalah” dan menunggu giliran.

Saat ini fokus pemerintah tertuju penuh pada penyusunan peta jalan (roadmap) hilirisasi untuk komoditas kakao dan kelapa yang dinilai lebih matang secara nilai ekonomi. Hal ini terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Diskoperindag Berau bekerja sama dengan Pusat Kajian Percepatan Pembangunan dan Inovasi Daerah Universitas Mulawarman, Rabu (25/2/2026).

Baca juga  Sukses Ekspor 10 Ton Kakao ke Prancis, Pemkab Berau Siapkan Agrowisata Kakao

Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Berau Reta Noratni menjelaskan bahwa sebenarnya ada tiga komoditas yang masuk dalam radar pengembangan. Namun mengingat proses hilirisasi membutuhkan waktu panjang dan konsistensi, pemerintah daerah memilih memprioritaskan dua komoditas yang sudah memiliki nama besar.

“Kami sebenarnya ada tiga produk, satunya jagung. Hanya jagung belum roadmap-nya, kami fokus ke kelapa sama kakao,” jelas Reta Noratni.

Baca juga  SPBU Tak Buka 24 Jam, Pedagang Eceran Jadi Penyelamat Pekerja Subuh di Berau

Reputasi Kakao dan Kelapa

Pilihan untuk mendahulukan kakao dan kelapa bukan tanpa alasan. Kakao Berau telah memiliki reputasi yang diakui di pasar nasional maupun mancanegara. Potensi produk turunannya pun bernilai tambah tinggi, mulai dari pasta cokelat hingga cokelat batangan premium.

Sementara itu kelapa dinilai memiliki varian produk turunan yang sangat beragam. Tidak hanya minyak goreng atau bahan pangan, kelapa bisa diolah menjadi produk kosmetik seperti sabun cair dan batangan. Bahkan limbahnya seperti sabut, tempurung, hingga ampas memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan.

Baca juga  Siswa Berau Tetap Dapat Makan Bergizi Gratis Selama Ramadan, Ini Skemanya!

Melalui roadmap ini, Diskoperindag ingin memastikan potensi di 13 kecamatan tergali optimal. Temuan awal menunjukkan kekayaan kelapa tidak hanya monopoli wilayah pesisir, tetapi juga melimpah di wilayah seperti Kampung Sukan dan Kampung Bebanir Bangun.

“Dua produk unggulan ini menjadikan salah satu kontribusi daerah yang tentunya kita berharap nanti bisa bernilai tinggi ya,” pungkasnya.

Bagikan:
Berita Terkait