Bosan ke Pantai? Intip Pesona 4 Ekowisata Mangrove Berau yang Siap Manjakan Mata Saat Libur Lebaran

diterbitkan: Kamis, 19 Maret 2026 07:14 WITA
Ekowisata mangrove di Teluk Semanting, Kecamatan Pulau Derawan.
Ekowisata mangrove di Teluk Semanting, Kecamatan Pulau Derawan.

NUSANTARA TERKINI – Kabupaten Berau terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata utama di Kalimantan Timur.

Tak hanya dikenal dengan keindahan bawah laut Kepulauan Derawan, kini potensi ekowisata mangrove menjadi primadona baru yang menawarkan perpaduan konservasi alam dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.

Dengan luas mencapai sekitar 89.000 hektare, Berau memegang predikat sebagai pemilik kawasan mangrove terluas di Kaltim.

Pemerintah Kabupaten Berau bersama berbagai mitra lingkungan kini fokus mengelola aset paru-paru dunia ini menjadi destinasi wisata berkelanjutan yang mendunia.

Bagi Anda yang merencanakan liburan keluarga yang sejuk dan edukatif, berikut adalah empat destinasi mangrove unggulan di Berau yang wajib dikunjungi:

Mangrove Tanjung Batu: Wajah Baru Pasca Revitalisasi

Destinasi ini kembali menjadi sorotan setelah menjalani program revitalisasi besar-besaran pada 2024-2025. Terletak tepat di gerbang keberangkatan menuju Pulau Derawan dan Maratua, kawasan ini kini siap menyambut wisatawan dengan fasilitas yang lebih modern.

Baca juga  Kapolda Kaltara Sambut Menhut di Tarakan, Besok Dijadwalkan Penanaman Mangrove

Jalur selasar kayu (boardwalk) telah diperpanjang hingga mendekati bibir laut, menciptakan berbagai spot foto estetik dengan latar belakang panorama laut lepas.

Pengunjung juga bisa mengunjungi Pusat Informasi Mangrove untuk belajar mengenai ekosistem pesisir dengan harga tiket yang sangat terjangkau, yakni Rp5.000 untuk wisatawan lokal.

Ekowisata Teluk Semanting: Harmoni Konservasi dan Ekonomi

Diresmikan oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih, Kampung Teluk Semanting menjadi contoh sukses pengelolaan wisata berbasis masyarakat.

Di sini, wisatawan dapat menyusuri hutan mangrove yang masih asri, melihat satwa endemik seperti Bekantan, dan menikmati fasilitas glamping bagi yang ingin menginap di tengah alam.

Pengelolaan kawasan ini melibatkan kelompok UMKM perempuan dan jasa lingkungan lokal, sehingga setiap kunjungan Anda turut membantu membuka lapangan pekerjaan bagi warga kampung.

Baca juga  Efisiensi Anggaran, Disbudpar Berau Pilih Kembangkan Wisata Skala Prioritas

De’Mangroop Dumaring: Edukasi di Pesisir Selatan

Berada di Kecamatan Talisayan, destinasi ini menawarkan konsep Ekoeduwisata dengan fasilitas yang tergolong lengkap untuk kegiatan komunitas maupun edukasi. 

Selain menara pandang dan jalur pedestrian yang nyaman, tersedia pula fasilitas kuliner seperti Cafe Bruguiera dan Resto Avicennia. 

Kawasan ini sering menjadi pusat aksi lingkungan, seperti penanaman bibit mangrove untuk melawan abrasi pantai, sehingga sangat cocok bagi wisatawan yang ingin berwisata sambil beraksi nyata untuk alam.

Teluk Sulaiman: Gerbang Menuju “Salo Buaya”

Bagi pemburu ketenangan, Teluk Sulaiman menawarkan petualangan menyusuri muara sungai yang dikelilingi hutan tropis lebat.

Aktivitas utama di sini adalah jelajah perahu untuk melihat penyu dan bekantan, serta akses mudah menuju Pulau Sigending Besar yang memiliki salah satu ekosistem terumbu karang terbaik di Berau.

Baca juga  5 Rekomendasi Wisata Belanja di Bontang, Dari Batik Eksklusif hingga Camilan Pesisir

Lokasi ini memberikan pengalaman petualangan yang lebih tenang dibandingkan destinasi arus utama lainnya.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengatakan, pengembangan ini merupakan bagian dari strategi pariwisata berkelanjutan melalui program SIGAP.

“Wisata mangrove ini adalah paket lengkap. Wisatawan dapat hiburan, alam kita tetap terjaga, dan ekonomi masyarakat kampung bergerak. Kami terus memfasilitasi Pokdarwis agar fasilitas di lokasi-lokasi ini tetap nyaman dan aman bagi pengunjung selama masa libur lebaran,” ungkapnya.

Untuk kunjungan yang maksimal, wisatawan disarankan menggunakan alas kaki yang tidak licin dan membawa cairan anti-nyamuk.

Waktu terbaik adalah pagi hari antara pukul 08.00-10.00 WITA atau sore hari pukul 16.00 WITA untuk kesempatan melihat satwa liar. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait