NUSANTARA TERKINI, Berau – Rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memangkas produksi batu bara hingga 70 persen dalam evaluasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 mulai memicu kekhawatiran di daerah penghasil tambang, termasuk Kabupaten Berau.
Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor pertambangan. Kekhawatiran itu semakin menguat setelah muncul kabar ratusan pekerja tambang di Kota Bontang telah dirumahkan akibat penurunan aktivitas perusahaan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau, Anang Saprani, mengakui ancaman PHK massal di Berau sangat mungkin terjadi apabila evaluasi RKAB berdampak pada penyusutan operasional perusahaan tambang.
“Karena pihak perusahaan tambang yang mendapat izin operasional itu juga mulai penyusutan. Jadi mereka mengadakan pengurangan-pengurangan,” ujar Anang usai menghadiri peringatan Hari Buruh Internasional di Tanjung Redeb, Jumat (1/5/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan gejolak sosial maupun ekonomi di tengah masyarakat, mengingat sektor pertambangan masih menjadi salah satu penopang utama lapangan kerja di Berau.
Meski demikian, Anang berharap perusahaan tidak melakukan pengurangan tenaga kerja secara mendadak dan dalam jumlah besar. Ia meminta perusahaan memberikan tahapan serta ruang bagi para pekerja untuk mempersiapkan diri sebelum kontrak kerja diputus.

“Minimal ada tahapan-tahapan. Berikan kesempatan kepada pekerja mencari usaha atau pekerjaan lain sebelum diputus kontraknya. Jadi jangan langsung diputus hubungan kerjanya secara massal,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan perusahaan agar tetap memenuhi seluruh hak pekerja sesuai ketentuan yang berlaku apabila PHK tidak dapat dihindari.
Selain itu, Disnakertrans Berau mengimbau para pekerja sektor pertambangan mulai membuka diri terhadap peluang kerja di sektor lain dan tidak hanya bergantung pada industri batu bara.
“Masih banyak peluang, tinggal bagaimana kita menyiasatinya. Jangan terpaku dengan sektor pertambangan saja,” pungkasnya. (/)
Reporter: Ika/NT






