NUSANTARA TERKINI – Kondisi memprihatinkan melanda Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat.
Sejak rampung dibangun lima tahun lalu pada 2021, fasilitas kesehatan masyarakat ini harus beroperasi dalam keterbatasan sanitasi yang kontradiktif: di satu sisi air mengalir deras merusak dinding akibat atap bocor, namun di sisi lain air justru kering kerontang di tempat yang paling dibutuhkan, yaitu wastafel medis.
Masalah instalasi air dan kebocoran ini dilaporkan telah mengganggu kenyamanan serta Standar Operasional Prosedur (SOP) sterilisasi para tenaga kesehatan (nakes) saat memberikan pelayanan medis kepada pasien.
Prosedur Sterilisasi yang Terpaksa “Mengungsi” ke Dapur
Kepala UPT Puskesmas Linggang Bigung, Felisitas Syahrizat, mengungkapkan bahwa gangguan fasilitas air bersih di ruang-ruang krusial tersebut sudah terjadi sejak awal bangunan mulai ditempati.
Padahal, ketersediaan air mengalir di wastafel merupakan komponen paling vital bagi dokter, perawat, hingga dokter gigi untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan medis.
“Untuk wastafel memang dari awal sudah bermasalah. Ada yang airnya mengalir kecil, bahkan ada yang sama sekali tidak keluar,” kata Felisitas, belum lama ini.
Akibat macetnya fasilitas sanitasi utama ini, para nakes terpaksa memutar otak dan melanggar alur penanganan medis yang ideal demi tetap menjaga higienitas. Mereka harus berjalan jauh meninggalkan ruangan penanganan pasien hanya untuk mencari air bersih.
“Kadang kami harus mencuci tangan ke arah dapur, karena wastafel di ruangan tidak berfungsi normal,” keluhnya lagi.
Kontras dengan Dinding yang Basah Akibat Atap Bocor
Ironisme fasilitas di Puskesmas Linggang Bigung semakin lengkap dengan masalah kebocoran atap yang tak kunjung tuntas. Sementara ruang tindakan medis kesulitan air, area depan ruang Tata Usaha (TU) justru terus-menerus digenangi air hujan yang merembes bebas melalui struktur bangunan.
“Yang bocor sebagian sudah diperbaiki, tapi yang di depan ruang tata usaha sampai sekarang masih ada. Air masih mengalir lewat dinding,” papar Felisitas.
Kondisi ini terasa sangat miris mengingat gedung faskes ini dibangun menggunakan kucuran Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2021 dengan nilai investasi fantastis, berkisar antara Rp6 hingga Rp7 miliar untuk satu puskesmas.
Berdasarkan informasi yang dihimpun pihak puskesmas, proyek DAK sejenis di beberapa wilayah Kutai Barat diduga juga mengalami masalah serupa.
Pihak Puskesmas Linggang Bigung kini hanya bisa berharap instansi terkait di Pemerintah Kabupaten Kutai Barat segera turun tangan melakukan perbaikan menyeluruh secara fisik.
Pembenahan instalasi sanitasi dan atap bocor ini mendesak dilakukan agar mutu pelayanan kesehatan masyarakat tidak semakin merosot akibat sarana prasarana yang cacat produksi.(*)





