NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau dipastikan akan kembali menghidupkan kemeriahan syiar Islam melalui gelaran pawai takbiran keliling kota dalam rangka menyambut Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.
Kendati demikian, panitia pelaksana memberlakukan regulasi dan pengawasan super ketat demi menjaga kesucian momentum ibadah kurban serta kenyamanan pendengaran publik.
Pihak panitia secara tegas melarang keras keterlibatan kendaraan bermotor yang nekat menggunakan knalpot bising atau brong.
Tidak hanya itu, rombongan konvoi juga diharamkan membawa atribut partai politik (parpol), menyalakan petasan, serta menggunakan armada angkutan berdimensi besar sejenis truk.
Fokus Syiar, Bukan Unjuk Suara Bising
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Kabupaten Berau, Toto Marjito, memaparkan bahwa esensi dari pawai takbiran keliling ini adalah menegakkan syiar Islam yang damai dan indah.
Oleh karena itu, performa suara dari para peserta konvoi harus fokus pada kefasihan dan keindahan lantunan lafaz takbir, bukan adu nyaring suara knalpot atau bisingnya musik.
“Pelaksanaannya itu hari Selasa tanggal 26 Mei 2026 sekitar pukul 20.00 WITA, selepas Isya. Start dari halaman depan Masjid Agung Baitul Hikmah di Jalan APT Pranoto,” jelas Toto, Senin (25/5/2026).
Mengenai pembatasan armada, Toto menegaskan roda dua, mobil pribadi, pick-up, dan minibus diperbolehkan ambil bagian.
Namun, saringan ketat akan langsung diberlakukan di titik kumpul utama sebelum bendera start dikibarkan. Kendaraan roda dua yang kedapatan memakai knalpot brong otomatis akan langsung dikeluarkan dari barisan rombongan.
“Kami membatasi dan tidak memperkenankan kendaraan roda dua berknalpot brong ikut serta. Kami juga mengharapkan kendaraannya itu dihias dengan baik dan menyuarakan lafaz takbiran dengan suara yang indah, bukan asal bising yang mengganggu kenyamanan warga di sepanjang rute jalan,” cetusnya.
Berbeda dengan momen Idulfitri, Toto memberikan catatan bahwa pada pawai takbiran Iduladha 1447 H kali ini, dekorasi mobil hias murni bersifat partisipatif dan tidak masuk dalam skema penilaian atau perlombaan.
Steril dari Atribut Politik dan Antisipasi Macet
Di tengah suasana daerah yang dinamis, Pemkab Berau juga mengantisipasi adanya penumpang gelap yang memanfaatkan massa pawai religius ini untuk kepentingan praktis.
Atribut parpol atau figur politik tertentu dilarang dipajang di armada konvoi demi menjaga netralitas dan kesucian esensi Iduladha sebagai hari raya kurban dan kepedulian sesama.
Untuk memastikan kelancaran konvoi yang akan membelah jantung Kota Tanjung Redeb ini, Bagian Kesra telah menjalin koordinasi intensif dengan tim Patroli dan Pengawalan (Patwal) Satlantas Polres Berau serta Dinas Perhubungan (Dishub) Berau untuk skenario rekayasa lalu lintas.
Rute yang dirancang panitia terbilang panjang agar gaung takbiran merata dirasakan warga. Selepas dilepas dari Jalan APT Pranoto, konvoi akan merayap tertib menyusuri rute Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Kapten Tendean, Jalan Ahmad Yani, Jalan SA Maulana, Jalan Pangeran Antasari, Jalan Sutomo, Jalan Pulau Derawan, Jalan Pemuda, Jalan Pulau Panjang, Jalan Pangeran Diponegoro, Jalan Murjani 2, dan menyudahi barisan di Jalan Murjani 1.
“Tujuan pawai ini memang agar dinikmati segenap lapisan masyarakat Berau sebagai syiar kegembiraan religius. Poinnya di situ, syiar Islam dikatakan berhasil jika kemeriahan dan gema takbir ini dirasakan langsung oleh orang banyak yang menonton di pinggir jalan,” tutup Toto.(*)






