Akses Jalur Udara Menurun, Berau Bidik Wisatawan Minat Khusus dan Komunitas Petualang

diterbitkan: Kamis, 7 Mei 2026 04:29 WITA
Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir.
Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir.

NUSANTARA TERKINI — Kondisi industri penerbangan di Kabupaten Berau saat ini sedang menghadapi tantangan serius.

Hal ini dipicu kabar vakumnya maskapai Air Asia selama dua bulan ke depan, serta pengurangan jadwal penerbangan Batik Air yang kini hanya melayani empat kali penerbangan dalam seminggu dari yang sebelumnya tujuh kali.

Situasi ini dinilai berdampak langsung pada sektor pariwisata daerah, mengingat akses bagi wisatawan dari luar Pulau Kalimantan menuju Berau kini menjadi lebih terbatas.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Samsiah Nawir, mengakui, situasi tersebut merupakan hambatan bagi pariwisata Berau yang saat ini tengah naik daun.

Meski demikian, ia menegaskan, pemerintah daerah dan para pelaku wisata tidak boleh patah semangat dalam menghadapi kondisi yang tidak kondusif ini.

Baca juga  Wisata Hidden Gem Berau Bertebaran, Disbudpar Sebut Setiap Wilayah Simpan Potensi Wisata Unik

“Kita sih berharap penerbangan akan kembali normal ya, semua situasi. Tetapi kita tidak boleh pesimis ya,” ujar Samsiah kepada Berauterkini.

Samsiah memandang situasi sulit ini sebagai kesempatan bagi para pelaku wisata untuk melakukan refleksi, pengembangan diri, serta peningkatan keahlian.

Ia menyoroti sektor pariwisata memiliki peran krusial di masa depan, terutama dalam menghadapi era pasca tambang di Berau.

Pariwisata diharapkan mampu menjadi tumpuan baru untuk membuka lapangan kerja kreatif bagi masyarakat lokal, termasuk bagi mereka yang nantinya terdampak oleh kebijakan efisiensi di sektor pertambangan.

“Dengan multiplier effect pariwisata ini tentu akan membuka lapangan pekerjaan kreatif seluas-luasnya untuk masyarakat lokal,” ungkapnya.

Baca juga  Ratusan Seniman dan Pelaku UMKM Meriahkan Karrap Fest, Harap Kesuksesan yang Sama di Tahun Depan

Disbudpar Berau sejauh ini sangat fokus pada pengembangan desa wisata dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Sebab, mereka dianggap sebagai garda terdepan dalam menciptakan peluang usaha baru, mulai pengelolaan homestay, jasa pemandu wisata, hingga penyewaan peralatan wisata yang selama ini belum tergarap secara maksimal.

Jika akses jalur udara dan laut mengalami kendala, Samsiah tetap optimis wisatawan tetap bisa menjangkau Berau melalui transportasi darat.

Meskipun jalur darat dari Balikpapan memerlukan waktu lebih lama, hal ini justru membuka segmentasi pasar baru, yakni para wisatawan yang menyukai petualangan atau wisata minat khusus.

Baca juga  Efek Jembatan Nibung, Kunjungan Wisata Berau Meledak, Disbudpar Dorong Warga Sulap Rumah Jadi Homestay

“Kita optimis dengan wisatawan nusantara yang mungkin masih terhubung sampai ke Balikpapan, setelah Balikpapan dia bisa lewat darat ke sini, memang mungkin akhirnya pasarnya jadi orang-orang yang senang berpetualang,” jelas Samsiah.

Sambil berharap jadwal penerbangan kembali normal dan disiplin, Disbudpar terus mendorong peningkatan kualitas pelayanan dan fasilitas di setiap destinasi.

Samsiah yakin, wisatawan tetap akan menemukan cara untuk datang ke Berau, baik melalui kapal Pelni, transportasi umum darat, hingga komunitas hobi seperti klub motor yang gemar melakukan perjalanan lintas daerah.

“Kalaupun itu masih berlangsung, kita siap menyambut wisatawan nusantara karena tetap ada transportasi darat. Selalu ada jalan menuju roma,” pungkasnya. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait