NUSANTARA TERKINI – Budidaya rumput laut di Kampung Karangan, Kecamatan Biatan, Kabupaten Berau menjadi ‘primadona’ bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Tak main-main, bisnis rumput laut dari Berau ini sudah menembus pasar global, seperti Tiongkok dan Hong Kong. Tentu langkah ini sejalan dengan upaya daerah melakukan transformasi ekonomi dari ketergantungan sektor tambang.
Dinas Perikanan (Diskan) Berau mencatat, komoditas rumput laut di wilayah ini tumbuh subur di atas lahan 60 hektare yang dikelola oleh sekitar 40 rumah tangga perikanan.
Tentu, keberhasilan ini tidak lepas dari kecocokan geografis Kampung Karangan yang berada di kawasan air payau.
Kepala Bidang (Kabid) Budidaya Diskan Berau, Budiono membeberkan bahwa investasi di sektor rumput laut ini tergolong sangat menggiurkan berkat efisiensi operasionalnya.
Berbeda dengan budidaya ikan atau udang yang membutuhkan biaya pakan tinggi dan perawatan ekstra, rumput laut sama sekali tidak memerlukan pakan. Bahkan, panen rumput laut relatif sangat singkat, yakni hanya sekitar 45 hari.
“Tentu ini sangat potensi jika ditinjau dari sisi bisnis. Dengan estimasi investasi awal sekitar Rp45 juta, keuntungan sudah dapat dinikmati sejak panen pertama,” ujarnya.
Nilai tambah komoditas ini kian berlipat karena rumput laut memiliki nilai turunan yang sangat luas untuk industri hilir, mulai dari bahan baku kosmetik, pangan, hingga sektor kesehatan.
Bisnis rumput laut ini kian terasa setelah berhasil menembus pasar global. Saat ini, produksi rumput laut kering dari Kampung Karangan rutin diekspor ke negara mitra, seperti Tiongkok dan Hong Kong.
Dalam kurun waktu tiga bulan, pengiriman dari Berau mampu mencapai dua kontainer atau setara dengan 40 ton, dengan proyeksi produksi tahunan tembus 160-360 ton.
Secara finansial, pasar ekspor memberikan keuntungan yang jauh lebih besar bagi nelayan setempat. Harga jual rumput laut kering untuk pasar ekspor saat ini menyentuh angka Rp15.000 per kilogram.
Angka ini terpaut cukup signifikan jika dibandingkan dengan harga di pasar domestik atau lokal yang hanya berkisar antara Rp11.000 – Rp12.000 per kilogram.
Sebagai upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal, tahun ini pemerintah daerah akan memberangkatkan lima pembudidaya lokal ke Balai Besar Budidaya Rumput Laut di Takalar, Sulawesi Selatan untuk memperdalam keterampilan budidaya modern.
Langkah ini diharapkan dapat memicu minat lebih banyak masyarakat pesisir Berau untuk beralih menjadi pengusaha rumput laut ekspor yang mandiri dan berkelanjutan. (*/adv)





