NUSANTARA TERKINI – Sektor perkebunan rakyat di Kabupaten Berau tengah menghadapi sinyal bahaya. Gelombang penurunan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mandiri dalam beberapa pekan terakhir mulai menekan urat nadi perekonomian petani swadaya.
Akibat krisis modal yang kian mencekik, para petani kini terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan memangkas dosis pemupukan dan menelantarkan sebagian perawatan rutin harian kebun mereka.
Kondisi tersebut bak buah simalakama. Jika pasokan nutrisi tanaman dikurangi, pohon sawit akan mengalami “kurang gizi” yang dipastikan merusak kualitas buah serta menurunkan produktivitas tonase panen secara masif dalam jangka panjang.
Namun di sisi lain, mempertahankan perawatan optimal di tengah harga jual yang anjlok sama saja dengan mempercepat kebangkrutan modal.
Biaya Operasional Mencekik Petani Kecil
Berdasarkan fluktuasi pasar di tingkat pengepul lokal, harga TBS sawit swadaya saat ini terperosok ke kisaran Rp2.300 hingga Rp2.600 per kilogram.
Angka ini merosot tajam jika dibandingkan dengan periode keemasan beberapa waktu lalu, di mana harga jual di tingkat petani sempat perkasa di level Rp3.160 hingga Rp3.420 per kilogram.
Akbar Patompo, salah satu petani sawit rakyat sekaligus tokoh pemuda di Kabupaten Berau, mengungkapkan bahwa ketimpangan antara ongkos produksi dan harga jual sudah berada di luar batas toleransi aman pendapatan petani kecil.
“Petani sawit rakyat hari ini berada pada posisi yang sangat sulit. Ketika harga TBS turun drastis, yang paling merasakan dampaknya adalah petani kecil. Biaya pupuk, perawatan kebun, dan kebutuhan operasional terus meningkat, sementara harga jual hasil panen justru terjun bebas,” kata Akbar dengan nada masygul, Minggu (24/5/2026).

Menurut Akbar, keputusan para petani swadaya untuk mengurangi jatah pupuk kimia murni diambil karena keterbatasan modal kerja yang tersisa.
Jika tren penurunan ini tidak segera diintervensi, efek dominonya akan menurunkan daya saing kelapa sawit domestik Kaltim di pasar nasional karena kualitas rendemen buah yang dihasilkan terus merosot.
Terjepit Sentimen Global dan Transisi Kebijakan
Lesunya perdagangan kelapa sawit di tingkat tapak ini sejatinya dipicu oleh komparasi masalah yang kompleks. Dari aspek global, koreksi harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di bursa komoditas internasional secara otomatis langsung memukul harga beli TBS di unit paling hulu.
Sementara dari dinamika internal, lemahnya serapan pasar oleh pabrik kelapa sasa (PKS) lokal, tingginya komponen biaya logistik dan distribusi angkutan, hingga ketidakpastian arah regulasi niaga nasional di masa transisi pemerintahan dinilai memperparah keadaan.
Penyesuaian aturan terkait kuota ekspor dan hilirisasi industri hilir membuat pergerakan harga domestik menjadi sangat fluktuatif serta tidak menentu.
Kondisi ini semakin diperparah dengan lemahnya posisi tawar (bargaining power) petani mandiri yang kerap menjadi objek permainan harga rantai pasok tengkulak karena tidak memiliki ikatan kemitraan resmi dengan pabrik pengolahan.
“Ini tidak bisa dianggap sepele. Petani sawit rakyat jangan hanya dijadikan penyangga ekonomi ketika harga bagus, tetapi ditinggalkan ketika harga jatuh. Negara harus hadir memastikan petani tetap bisa bertahan dan hidup layak dari kebunnya sendiri,” pungkasnya mengharapkan adanya kebijakan intervensi batas harga bawah dari pemerintah.(*)






