NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memberikan atensi khusus terhadap pengembangan sektor pertanian, salah satunya pada komoditas jagung.
Langkah ini dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan produksi pangan dan pendapatan petani, serta mendorong kemandirian ekonomi kampung.
Demikian disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis. Dikatakannya, saat ini budidaya jagung menjadi salah satu fokus Pemkab Berau dalam pengembangan usaha dari potensi lokal.
Menurutnya, optimalisasi lahan pertanian di Berau memiliki peluang besar, utamanya dalam hal meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk itu, pemerintah daerah berkomitmen untuk memberikan dukungan terhadap para petani.
“Setidaknya, dengan adanya pendampingan yang diberikan pemerintah daerah, jagung yang dihasilkan dapat bernilai ekonomi tinggi,” kata Wabup Gamalis.
Talisayan Jadi Sentra Utama
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau, Lita Handini juga mengatakan pengembangan komoditas jagung menjadi salah satu fokus pemerintah daerah.
Saat ini, Kecamatan Talisayan masih menjadi salah satu sentra utama produksi jagung di Berau dengan kontribusi sekitar 71 persen dari total produksi jagung Berau.
Sentra utamanya di Kampung Purna Sari Jaya dan Kampung Eka Sapta. Selain Talisayan, daerah lain seperti Teluk Bayur, Gunung Tabur, serta Sambaliung juga menjadi daerah penopang.
“Termasuk kecamatan lain juga terus kita kembangkan. Kita lakukan pendampingan hingga penyediaan bibit unggul untuk kelompok tani,” tuturnya.
Perkembangan Luas Tanam
Pengembangan komoditas jagung di Kabupaten Berau menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Perluasan areal tanam menjadi salah satu indikator meningkatnya perhatian terhadap komoditas tersebut sebagai bagian dari penguatan sektor pertanian daerah.
Data tahun 2024 mencatat luas tanam jagung di Berau mencapai 10.950 hektare. Dari luasan tersebut, dihasilkan produksi jagung pipilan kering sebanyak 3.960 ton.
Perkembangan itu berlanjut pada 2025, yang ditandai dengan bertambahnya luas panen. Namun, peningkatan produksi jagung mulai menghadapi tantangan memasuki pertengahan 2026.
Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang hingga Agustus membuat sebagian lahan pertanian berada dalam kondisi rentan. Terutama lahan yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber air.
Kondisi tersebut dikhawatirkan meningkatkan risiko tanaman mengalami puso. Jika tidak diantisipasi, kekeringan dapat berdampak terhadap produktivitas dan hasil panen jagung petani. (*/adv)






