NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Indonesia memilih langkah berhati-hati dalam merespons gejolak pasar minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi ini dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik dan kontak senjata di wilayah Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah belum merencanakan penyesuaian harga bahan bakar minyak bersubsidi. Keputusan tersebut diambil sembari mencermati fluktuasi harga energi global dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.
Airlangga menjelaskan patokan harga minyak mentah Indonesia saat ini masih terpantau aman sesuai asumsi makro anggaran negara. Pemerintah mencatat batasan harga acuan tersebut berada pada level tujuh puluh dolar Amerika Serikat per barel.
“Jadi kita tunggu saja,” kata Airlangga pada Kamis (05/03/2026).
Skenario Antisipasi Perang
Pemerintah kini mulai menyusun berbagai rencana cadangan guna memitigasi dampak terburuk dari eskalasi konflik bersenjata tersebut. Airlangga menyebut persiapan ini sangat krusial mengingat durasi perang diprediksi bisa memakan waktu selama tiga bulan hingga lebih dari setengah tahun.
“Jadi kita masing-masing ada skenario,” ujarnya.
Operasi Militer Amerika Serikat
Ketidakpastian ekonomi global ini semakin meruncing pascaserangan militer Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir bulan lalu. Invasi bersenjata ini tercatat sebagai serangan besar kedua pada era Presiden Donald Trump sejak pertengahan tahun 2025.
Pemerintah Amerika Serikat berdalih gempuran tersebut merupakan langkah mutlak guna melindungi warga negaranya dari ancaman pengembangan senjata nuklir. Peristiwa ini sekaligus memutus harapan damai dari tiga putaran negosiasi yang sebelumnya sempat dimediasi oleh pemerintah Oman.
Ancaman Anggaran Negara
Pakar energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memperingatkan adanya potensi pembengkakan anggaran negara tahun 2026 akibat lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak hingga dua puluh lima persen sangat mungkin terjadi meskipun tanpa adanya blokade jalur laut internasional.
Kondisi akan bertambah parah apabila perseteruan memicu penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi rute utama perdagangan minyak dunia. Yayan menilai penutupan celah strategis antara Oman dan Iran ini akan melambungkan harga minyak mentah secara drastis hingga menyentuh seratus dolar Amerika Serikat per barel.
“Harga minyak akan naik menjadi 50 persen,” ucapnya.





