Siap-Siap ‘Healing’ di Hutan Anggrek Tubaan, Destinasi Unik Berau yang Bakal Hadirkan Tren Memeluk Pohon

diterbitkan: Rabu, 20 Mei 2026 05:04 WITA
Disbudpar Berau saat mengunjungi hutan anggrek dan Bukit Ruaban Kampung Tubaan. (IST)
Disbudpar Berau saat mengunjungi hutan anggrek dan Bukit Ruaban Kampung Tubaan. (IST)

NUSANTARA TERKINI — Destinasi wisata hutan anggrek di Kampung Tubaan, Kecamatan Tabalar, Berau, dijadwalkan akan segera diresmikan pada Juni mendatang.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau bahkan dilaporkan sudah melakukan kunjungan peninjauan ke lokasi beberapa waktu lalu.

Kawasan hutan tersebut menyimpan kekayaan hayati berupa ribuan jenis anggrek langka asli hutan Kalimantan yang berhasil diselamatkan.

Seluruh flora eksotis tersebut kini sudah melalui proses pembibitan intensif dan dinyatakan siap untuk diadopsi oleh para pengunjung.

Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Bina Pengembangan Destinasi Pariwisata Disbudpar Berau, Supriyani, menjelaskan, potensi ekonomi wisata ini tercatat sangat besar.

Disbudpar Berau saat mengunjungi hutan anggrek dan Bukit Ruaban Kampung Tubaan. (IST)
Disbudpar Berau saat mengunjungi hutan anggrek dan Bukit Ruaban Kampung Tubaan. (IST)

Hal itu didukung pergeseran tren di mana wisatawan mulai mencari pengalaman baru yang menawarkan unsur ketenangan jiwa dan edukasi.

Konsep pemulihan jiwa di alam terbuka atau forest healing menjadi sebuah kegiatan wisata yang sangat unik.

Produk ekowisata ini bahkan diklaim belum banyak dimiliki oleh destinasi daerah lain di daratan Pulau Kalimantan.

Ragam aktivitas menarik yang bisa dilakukan di dalam kawasan meliputi program adopsi anggrek langka, trekking menembus belantara, jalan santai dalam keheningan (silent walking), hingga menulis jurnal narasi alam.

Baca juga  Bukan Sekadar Aturan Umum, Disbudpar Berau Detailkan SOP Wisata Hingga ke Petugas Loket dan Toilet

Wisatawan juga akan diajak melakukan aktivitas relaksasi berupa memeluk pohon serta latihan olah napas dalam-dalam di bawah rindangnya tajuk hutan.

“Ini bisa menjadi wisata minat khusus yang menarik wisatawan pecinta alam, kesehatan mental, hingga ekowisata,” ujarnya kepada Berauterkini, Rabu (20/5/2026).

Formulasi paket wisata saat ini dikabarkan sudah siap dipasarkan secara komersial kepada publik luas.

Sejumlah agen biro perjalanan wisata lokal bahkan dilaporkan sudah mulai membuka keran pemesanan perjalanan ke destinasi tersebut.

Terkait besaran harga paket perjalanan, Supriyani menjelaskan tarif tersebut sudah mulai diperkenalkan ke pasar.

Langkah ini diambil setelah pihak pengelola sukses menggelar uji coba paket bersama beberapa pihak yang berkolaborasi.

Disbudpar Berau sengaja berkolaborasi aktif dengan Jaringan Mitra Pariwisata (JMP), kalangan akademisi, konten kreator, serta agen travel.

Sinergi ini bertujuan untuk melihat langsung pengalaman wisata yang ditawarkan sekaligus menerima berbagai masukan korektif.

“Agar paket wisata forest healing di hutan anggrek Kampung Tubaan dalam keadaan matang ketika dipasarkan ke publik,” ucapnya.

Skenario promosi ke depan direncanakan akan memanfaatkan kekuatan penetrasi media sosial, kolaborasi konten, dan kampanye masif melalui ajang pameran pariwisata.

Baca juga  Demi Kemajuan Pariwisata, Disbudpar Berau Siapkan Kanal Khusus Tampung Aspirasi dan Keluhan Warga

Daya tarik utama yang dijual adalah kombinasi antara sensasi forest healing dan misi mulia konservasi tanaman langka.

Mengenai aksesibilitas, Supriyani menjamin jalur menuju ke lokasi hutan anggrek sudah sangat memadai untuk dilalui para pengunjung.

Infrastruktur dasar penunjang kenyamanan di sekitar area inti juga terus dilengkapi oleh pengelola.

Sarana prasarana yang sudah tersedia di sekitar hutan anggrek saat ini meliputi tempat istirahat yang nyaman, fasilitas toilet bersih, serta papan informasi edukatif. 

Fasilitas tersebut disiapkan untuk memudahkan pengunjung saat mengikuti petualangan trekking.

“Kondisi jalan sangat memungkinkan untuk dilalui, ada rest area post, toilet serta papan informasi,” katanya.

Agenda peluncuran objek wisata minat khusus ini diperkirakan akan mengambil momentum pada pertengahan bulan depan.

“Insya Allah ada soft launching pada bulan juni,” ujarnya.

Kendati demikian, ia memberikan catatan, wilayah tersebut merupakan kawasan konservasi yang sensitif.

Demi menjaga kelestarian hutan, pihak pengelola wajib menerapkan aturan ketat berupa pembatasan jumlah kunjungan harian.

Kebijakan pembatasan kuota tersebut sengaja diberlakukan agar habitat anggrek tetap terjaga dan tidak rusak akibat aktivitas manusia yang berlebihan.

Baca juga  Antisipasi Lonjakan Pengunjung, Frontliner Disbudpar Berau Siaga di Dermaga Sanggam Sampai Hari Kelima Lebaran

Pengaturan jumlah orang dalam satu waktu juga penting agar suasana hutan tetap sunyi dan ekosistem di dalamnya tidak terganggu.

“Pasti ada, nantinya akan ada pembatasan jumlah pengunjung dalam satu waktu,” ungkapnya.

Target pelancong yang diharapkan datang pun nantinya bukan tipe wisatawan massal yang mengejar keramaian semata.

Pengelola lebih mengutamakan kedatangan turis yang menyukai kelestarian alam, ketenangan spiritual, edukasi lingkungan, serta penghargaan terhadap budaya lokal.

“Jadi konsepnya lebih ke quality tourism dan sustainable tourism,” singkatnya.

Walaupun belum resmi dibuka untuk umum, Disbudpar bersama pihak pengelola menitipkan pesan mendalam agar setiap calon pengunjung selalu menjaga kebersihan. 

Menurutnya, konsep berwisata modern bukan sekadar menikmati keindahan alam, melainkan juga menghargai dan merawat ekologi.

Para wisatawan dilarang keras merusak tanaman, tidak boleh meninggalkan sampah, dan diminta menikmati suasana hutan dengan penuh kesadaran.

Kepedulian tersebut merupakan modal utama dalam membantu menjaga keseimbangan alam.

“Karena tempat ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi juga rumah bagi banyak flora langka Kalimantan,” tutupnya. (Adv)

Bagikan:
Berita Terkait