NUSANTARA TERKINI – Di dunia bisnis, jalur karier biasanya terbagi cukup tegas: ada yang memilih fokus di ranah teknis, ada pula yang bergerak di bidang manajemen dan strategi. Namun, sosok Elvina, S.Kom, CIPM menunjukkan bahwa kedua peran tersebut bisa dijalankan secara bersamaan, tanpa harus saling meniadakan.
Dengan latar belakang Sarjana Komputer, Elvina memiliki fondasi kuat di bidang teknologi informasi. Pemahaman terhadap sistem, data, dan proses kerja teknologi menjadi bagian dari kompetensi yang ia bangun sejak awal karier. Di sisi lain, sertifikasi CIPM yang diembannya menegaskan ketertarikan dan kapasitasnya di bidang manajemen dan pengelolaan teknologi berbasis proyek dan tata kelola.
Secara umum, profesi di bidang IT kerap diasosiasikan dengan pekerjaan yang sangat teknis. Seorang profesional IT bisa terlibat dalam perancangan arsitektur sistem, pengelolaan infrastruktur teknologi, pemeliharaan server, pengelolaan database, hingga memastikan keamanan informasi dalam organisasi. Aktivitas sehari-hari mereka sering berfokus pada detail teknis, analisis masalah, dan penerapan solusi yang tepat agar sistem berjalan stabil dan efisien.
Namun bagi Elvina, sisi teknis tersebut bukan satu-satunya ruang kontribusi. Ia tetap memahami dan mengikuti dinamika teknologi, tetapi pada saat yang sama mengambil peran aktif dalam aspek manajerial: menyusun strategi, mengarahkan tim, dan memastikan bahwa teknologi yang digunakan benar-benar mendukung tujuan bisnis. Dalam berbagai kesempatan, Elvina menekankan bahwa teknologi dan manajemen tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.
“Saya berangkat dari dunia IT yang sangat teknis, tapi sejak awal selalu tertarik pada bagaimana teknologi itu dikelola dan diarahkan,” ujar Elvina. “Bagi saya, memahami sistem saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah bagaimana sistem tersebut memberi nilai bagi organisasi.”
Perpaduan dua peran ini terlihat jelas dalam kiprahnya di PT Blaize Teknologi Indonesia (Blaize Technology). Perusahaan ini berfokus pada solusi manajemen bisnis berbasis teknologi yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga terstruktur dari sisi manajemen. Dalam kapasitasnya sebagai Direktur Utama, Elvina memegang dua sudut pandang sekaligus: memastikan teknologi yang dikembangkan memiliki fondasi yang tepat, serta memastikan setiap keputusan selaras dengan arah strategis perusahaan.
Di lingkungan kerja yang kompleks, posisi tersebut menuntut kemampuan menjembatani tim teknis dan manajemen. Elvina memahami bahasa teknis yang digunakan para pengembang dan engineer, namun juga akrab dengan kebutuhan bisnis, indikator kinerja, dan target jangka panjang organisasi. Hal ini membuat komunikasi lintas fungsi menjadi lebih efektif, sekaligus mengurangi potensi kesenjangan antara implementasi teknologi dan ekspektasi manajemen.
“Sering kali, tim teknis dan manajemen punya cara pandang yang berbeda,” kata Elvina. “Saya berusaha berada di tengah: memahami kekhawatiran teknis, tapi juga menjaga agar keputusan tetap berada di jalur strategis yang sudah disepakati.”
PT Blaize Teknologi Indonesia (Blaize Technology) mengadopsi pendekatan yang memadukan aspek teknis dan manajerial dalam setiap inisiatif teknologi. Setiap proyek tidak hanya dinilai dari keberhasilan implementasi sistem, tetapi juga dari dampaknya terhadap efisiensi proses, peningkatan kualitas layanan, dan kontribusi terhadap pertumbuhan bisnis. Dalam kerangka ini, latar belakang IT dan kompetensi manajemen yang dimiliki Elvina menjadi kombinasi yang relevan.
Di tengah percepatan transformasi digital, kebutuhan akan sosok yang mampu menguasai dua ranah sekaligus semakin terasa. Banyak organisasi menyadari bahwa teknologi yang kuat saja tidak cukup tanpa manajemen yang terarah, dan sebaliknya, strategi bisnis yang ambisius sulit terwujud tanpa dukungan teknologi yang tepat. Peran ganda yang dijalankan Elvina menjadi contoh bagaimana integrasi tersebut dapat diwujudkan secara praktis.
Perjalanan karier Elvina, S.Kom, CIPM sekaligus mematahkan anggapan bahwa lulusan IT harus memilih antara tetap di jalur teknis atau sepenuhnya beralih ke manajemen. Ia menunjukkan bahwa keduanya dapat berjalan paralel, saling menguatkan, dan justru menjadi keunggulan kompetitif di lingkungan kerja modern.
“Pada akhirnya, saya tidak melihat teknis dan manajemen sebagai dua dunia yang terpisah,” tutup Elvina. “Keduanya adalah bagian dari satu ekosistem yang harus saling mendukung. Dan di situ, saya memilih untuk berada di tengah, memegang keduanya.”






