Proyek PLTA Batoq Kelo 300 MW Mahulu Dimulai, Investor Komitmen Jaga Kelestarian Alam Jantung Mahakam

diterbitkan: Senin, 25 Mei 2026 07:57 WITA
PLTA Batoq Kelo
Peluncuran Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 megawatt yang berlokasi di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). (Foto: Prov Kaltim)

NUSANTARA TERKINI – Langkah nyata menuju era kemandirian energi bersih dan ramah lingkungan di Kalimantan Timur (Kaltim) resmi bergulir.

Proyek strategis nasional berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 Megawatt (MW) yang terletak di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), kini memasuki tahap konstruksi awal.

Mega proyek yang digadang-gadang bakal menjadi salah satu lumbung pasokan hidropower terbesar di Benua Etam ini mengusung visi besar transisi energi nasional.

Di tengah tantangan perubahan iklim global, pihak konsorsium investor berkomitmen penuh untuk menyelaraskan pembangunan infrastruktur kelistrikan raksasa tersebut dengan perlindungan ekosistem serta pemberdayaan masyarakat pedalaman.

Wujud Visi Besar Investasi Berkelanjutan

Kepastian dimulainya proyek masa depan ini ditandai dengan prosesi peletakan batu pertama (Groundbreaking Ceremony Batoq Kelo Hydropower Project) yang digelar secara khidmat di Pendopo Odah Etam, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, Samarinda, Senin (25/5/2026).

Baca juga  Harga BBM Non-Subsidi di Kaltim Melambung Per 18 April, Dexlite Tembus Rp 24 Ribu

Direktur Keuangan PT Tujuan Mulia Makmur (TMM) selaku investor utama proyek, City Jamiah, menegaskan bahwa kehadiran PLTA Batoq Kelo melampaui urusan bisnis komoditas setrum konvensional. Proyek ini didesain sebagai portofolio investasi hijau yang mengedepankan prinsip keberlanjutan (sustainability).

“PLTA Batoq Kelo bukan sekadar proyek infrastruktur kelistrikan, tetapi wujud visi besar Indonesia menuju kemandirian energi ramah lingkungan,” ujar City Jamiah di hadapan para pemangku kepentingan.

Sebagai penyokong dana utama pembangunan hidropower di hulu Sungai Mahakam ini, PT TMM menggaransi bahwa seluruh tahapan konstruksi hingga operasional nanti akan mengadopsi standar lingkungan yang ketat.

Pihaknya berjanji akan menjaga bentang alam, meminimalisir polusi, serta memproteksi kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversity) endemik yang menjadi paru-paru Kabupaten Mahulu.

Tak hanya kelestarian alam, aspek sosial kemasyarakatan juga menjadi pilar utama. City memastikan masyarakat lokal di pedalaman Mahulu tidak akan menjadi penonton pasif.

Baca juga  12 Tahun Mahulu Berdiri, DPRD Sebut 40 Kilometer Jalan ke Mahulu Masih Ekstrem

Korporasi telah menyiapkan skema penyerapan tenaga kerja lokal secara masif serta program Corporate Social Responsibility (CSR) yang terstruktur untuk mendongkrak taraf hidup warga di sekitar lingkar proyek.

Dikawal Utusan Khusus Presiden dan Konsorsium Global

Bobot prestisius proyek hidropower ini terlihat dari deretan tokoh elite yang mengawal langsung jalannya groundbreaking.

Agenda ini dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo, Chairman Handa Group sekaligus Owner PT TMM Zi Fenggao, serta Chairman Sinohydro Wang Qi selaku kontraktor ahli bendungan global.

Dari jajaran pemerintahan daerah, tampak hadir Gubernur Kaltim H. Rudy Mas’ud bersama Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan yang menyambut hangat masuknya investasi bernilai triliunan rupiah tersebut ke wilayah administrasi mereka.

Baca juga  Kutai Barat Dianggap Terlalu Jauh, Formasi Dokter Spesialis RSUD HIS Tak Dilirik

Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menegaskan bahwa Pemprov Kaltim memberikan karpet merah dan dukungan total bagi proyek ini. Menurutnya, PLTA Batoq Kelo adalah investasi jangka panjang yang cerdas karena mampu menghasilkan energi bersih sekaligus memicu efek pengganda (multiplier effect) ekonomi.

Hal itu dibuktikan dengan ikut dibangunnya infrastruktur jalan darat sepanjang 122 kilometer serta jembatan sepanjang 120 meter yang memotong isolasi geografis pedalaman menuju Kalimantan Utara.

“Ini bukan hanya proyek listrik 300 megawatt, tetapi proyek masa depan untuk masyarakat Kalimantan Timur,” tegas Gubernur yang akrab disapa Harum tersebut.

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan cinderamata dan penandatanganan komitmen bersama. Dimulainya proyek PLTA Batoq Kelo ini diharapkan menjadi tonggak sejarah baru dalam peta jalan (roadmap) transformasi energi hijau nasional, sekaligus membuktikan bahwa industrialisasi dan kelestarian alam pedalaman Kaltim dapat berjalan beriringan.(*)

Bagikan:
Berita Terkait