NUSANTARA TERKINI — Lonjakan drastis pengunjung di musim liburan tahun ini menyisakan cerita unik di pesisir selatan Berau.
Banyak pelancong harus menelan pil pahit karena kehabisan tempat menginap akibat datang tanpa persiapan matang.
Fenomena ini memaksa sejumlah wisatawan beristirahat di teras masjid di wilayah Bidukbiduk karena seluruh penginapan telah penuh.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau bergerak cepat menanggapi situasi darurat tersebut.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama Disbudpar Berau, Ing Ta Wijaya, terus berkoordinasi dengan aparat kampung setempat.
Kondisi ini terjadi karena banyak wisatawan luar daerah nekat berangkat tanpa melakukan pemesanan akomodasi terlebih dahulu.
“Kampung melalui DKM masjid mengarahkan wisatawan agar dapat menggunakan masjid sebagai tempat istirahat sementara,” ungkap Wijaya.
Evaluasi Masalah Klasik Daya Tampung Wisata
Wijaya menilai masalah klasik ini selalu muncul setiap tahunnya saat momen libur panjang tiba.
Daya tampung destinasi wisata pesisir saat ini memang tidak sebanding dengan antusiasme masyarakat yang sangat besar.
Fenomena tersebut akan menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pemangku kepentingan pariwisata di masa depan.
Kepadatan pengunjung juga terlihat nyata di destinasi unggulan seperti Danau Labuan Cermin.
Area dermaga yang terbatas menyebabkan penumpukan orang sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait aspek keamanan.
Disbudpar kini melakukan mitigasi bersama pemerintah kampung, BUMK, dan pengelola setempat untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.
“Kami berusaha mengantisipasi hal hal yang tidak diinginkan, berkolaborasi dengan pemerintah kampung, BUMK dan pengelola Labuan Cermin,” jelasnya.
Sistem Pelaporan Cepat dan Kolaborasi Masa Depan
Upaya antisipasi dilakukan secara intensif mengingat Labuan Cermin tetap menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal.
Sebagai langkah jangka pendek, Disbudpar Berau telah membentuk grup komunikasi di setiap daya tarik wisata unggulan.
Grup ini berfungsi sebagai kanal pelaporan cepat jika terjadi kendala mendesak di lapangan.
Melalui sistem koordinasi tersebut, dinas berupaya memberikan solusi dari jauh agar masalah wisatawan segera teratasi.
Wijaya menekankan pentingnya kolaborasi berkelanjutan untuk memperbaiki ekosistem pariwisata di Kabupaten Berau.
Transparansi informasi mengenai ketersediaan penginapan menjadi poin utama yang harus ditingkatkan di masa mendatang.
“Hal ini menjadi catatan dan evaluasi bagi kami agar dapat lebih bekerja sama dan berkolaborasi dengan stakeholder,” pungkasnya. (Adv)





