NUSANTARA TERKINI – Bupati Berau, Sri Juniarsih mengincar adopsi teknologi modern pengolahan sampah berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti yang saat ini telah diterapkan di Jepang.
Hal ini menarik perhatian Bupati Sri mengingat persoalan sampah hingga kini masih menjadi PR besar bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau.
Dengan pemanfaatan teknologi ini, setiap pembuangan sampah dapat menghasilkan rupiah. Karena, hanya dengan memindai barcode di lokasi mesin, insentif uang akan otomatis ditransfer ke rekening pribadi.
Kendati demikian, Bupati Sri mengaku Pemkab Berau tentu tidak dapat bergerak sendiri untuk mewujudkannya mengingat Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) saat ini sangat terbatas.
Dalam hal ini, kolaborasi dari sektor swasta atau pihak perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dinilai menjadi kunci.
“Ini mimpi saya. Mimpi ini akan menjadi kenyataan ketika kita saling berkolaborasi,” kata Bupati Sri.
Oleh karena itu, DLHK Berau dan jajaran direksi perusahaan diminta untuk dapat memaksimalkan dana CSR untuk mendukung mimpi tersebut.
Kisaran harga per unit alat tersebut sekitar Rp400 juta. Untuk di Berau, Bupati Sri menargetkan dapat diadakan untuk 10 titik strategis. Selain untuk menjaga kebersihan kota, hal yang tak kalah pentingnya juga adalah kebersihan sektor pariwisata.
“Dengan teknologi ini, sampah bukan lagi menjadi masalah, tapi justru menjadi sumber rezeki,” tuturnya.
SISTEM OTOMATIS TANPA TENAGA MANUSIA
Secara teknis, mesin sampah modern ini tidak lagi membutuhkan tenaga manusia untuk memilah sampai masuk.
Dengan kecanggihan sistemnya, mesin secara otomatis sudah mengklasifikasikan sampah plastik, sampah kaleng dan lain-lain.
Soal nominal Rp400 juta per unit dinilai bukan angka yang besar bagi korporasi yang selama ini mengeruk keuntungan dari sumber daya di Bumi Batiwakkal— nama lain dari Berau.
Oleh karena itu, Bupati Sri meminta DLHK menyikapi hal ini, utamanya terhadap sejumlah perusahaan besar yang beroperasi di Berau.
Dengan sistem ini, tentu masyarakat akan berlomba-lomba untuk membuang sampah. Karena setiap sampah yang dibuat, semua ada nilai rupiahnya.
“Sebagai kepala daerah, saya berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti di sini, tidak hanya perencanaan semata, tapi dapat diwujudkan melalui kolaborasi pihak swasta,” pungkasnya. (*/adv)





