BERAU – Jumlah dokter spesialis di RSUD Abdul Rivai Berau masih terbatas. Kekurangan tenaga kesehatan yang ahli rupanya memberikan dampak signifikan bagi kualitas layanan kesehatan di Bumi Batiwakkal.
Anggota DPRD Berau, Frans Lewi menerangkan situasi tersebut terpaksa membuat pasien dengan riwayat penyakit tertentu harus dirujuk ke fasilitas kesehatan lain, seperti RS yang ada di Samarinda, Berau, hingga Tarakan, Kalimantan Utara.
“Ini harus jadi perhatian serius terhadap kekurangan tenaga dokter spesialis. Supaya ke depan layanan kesehatan bisa kita optimalkan,” tegas dia.
Frans menceritakan, ia sempat melakukan kunjungan ke Dinas Kesehatan Tarakan. Dalam kunjungan tersebut, ia mendapati ketersediaan tenaga medis sudah lebih maju ketimbang di Kabupaten Berau. Ia menyebut Ada beberapa point dapat diambil dari hasil kunjungan tersebut.
“Selama ini, Tarakan kerap menjadi rujukan masyarakat Berau untuk melanjutkan pengobatan,” ujarnya.
Frans pun berharap pemerintah daerah maupun manajemen rumah sakit di Berau bisa konsisten untuk pembaharuan layanan bagi masyarakat.
“Karena kasihan warga kita juga harus keluar daerah berobat karena lebih maksimal di sana ketimbang didaerah sendiri,” tutupnya.
Untuk informasi, keterbatasan jumlah dokter spesialis di Bumi Batiwakkal juga sudah diakui Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas. Namun dia memastikan pemerintah daerah tidak akan tinggal diam menghadapi persoalan tersebut. Salah satu langkah strategis yang sudah dilakukan adalah dengan mengirimkan delapan dokter umum untuk melanjutkan pendidikan spesialis melalui jalur afirmasi, yang telah berjalan sejak Desember 2024 lalu.
Ia menyebut, langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketersediaan tenaga medis spesialis di masa mendatang, sehingga masyarakat Berau tidak perlu lagi menunggu lama atau dirujuk keluar daerah untuk mendapatkan layanan tertentu. (adv)






