Jadi Andalan Kampung Teluk Semanting, Disbudpar Berau Harap Wisata Mangrove Dibuka Kembali

diterbitkan: Sabtu, 25 April 2026 11:40 WITA
Wisata Mangrove Teluk Semanting di Kecamatan Pulau Derawan. (IST)
Wisata Mangrove Teluk Semanting di Kecamatan Pulau Derawan. (IST)

NUSANTARA TERKINI — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menaruh harapan besar agar wisata Mangrove Teluk Semanting segera beroperasi kembali. 

Destinasi ini dikabarkan telah ditutup sementara sejak setahun yang lalu.

Penutupan dilakukan karena kondisi fasilitas pendukung di area tersebut mengalami kerusakan yang cukup serius.

Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, mengakui kurang mengetahui penyebab pasti rusaknya jalur kayu atau trekking tersebut.

Namun, faktor alam diduga kuat menjadi penyebab utama terjadinya pelapukan dan kerusakan material kayu. 

Lingkungan mangrove yang lembap memang sangat memengaruhi ketahanan struktur bangunan di sana.

“Teluk Semanting itu sudah satu tahun belakangan ini tutup karena rusak, kondisinya rusak parah,” ujar Samsiah.

Baca juga  Program Satu Orang Satu Pohon, Bupati Sri: Pemerintah Daerah Tak Tinggal Diam dengan Ancaman Bencana

Kerusakan pada jalur trekking memaksa pihak kampung untuk menutup akses bagi wisatawan secara total.

Hal ini dilakukan guna menghindari kecelakaan yang bisa terjadi jika pengunjung tetap melintasi jalur yang lapuk. 

Keamanan masyarakat tetap menjadi prioritas utama pihak pengelola sebelum perbaikan menyeluruh dapat dilaksanakan.

Pihak kampung telah bersepakat bahwa risiko keselamatan terlalu besar jika wisata tersebut dipaksakan tetap dibuka. 

Terdapat banyak titik kerusakan yang dinilai berbahaya bagi keselamatan jiwa para pelancong.

Oleh karena itu, renovasi menjadi syarat mutlak sebelum kawasan hutan mangrove ini kembali menyambut tamu.

“Nanti daripada kejadian karena melihat memang ada banyak titik yang hancur, mereka sudah sepakat menutup,” ungkapnya.

Baca juga  Disbudpar Berau Ajak Anak Sekolah Kunjungi Wisata Edukasi saat Masa Liburan

Harapan pembukaan kembali muncul karena kawasan ini merupakan salah satu destinasi andalan di Kecamatan Pulau Derawan.

Selain keindahan mangrove, kampung ini juga terkenal dengan kekayaan kulinernya yang khas.

Wisatawan biasanya mengincar produk lokal seperti amplang, kepiting bakau, hingga ketuyung saat berkunjung ke sana.

Namun, kendala utama yang dihadapi pemerintah daerah saat ini adalah keterbatasan atau efisiensi anggaran pembangunan.

Disbudpar Berau kini tengah menjajaki kemungkinan pendekatan dengan lembaga swadaya masyarakat atau NGO.

Langkah ini diambil sebagai solusi alternatif untuk mendanai perbaikan fasilitas yang rusak tersebut.

Samsiah berharap NGO memberikan perhatian khusus pada keberlangsungan ekowisata di Teluk Semanting.

Baca juga  Tindaklanjuti Arahan Kemendagri, Bupati Sri Ajak Masyarakat Berau Jaga Kondusifitas Daerah

Hal ini dikarenakan beberapa NGO sudah memiliki legitimasi resmi terkait pengelolaan kawasan mangrove tersebut. 

Kolaborasi antara pemerintah dan mitra swasta sangat diperlukan untuk mempercepat proses renovasi jalur trekking.

Pihak dinas akan berupaya menjalin komunikasi kembali dengan pihak-pihak yang sebelumnya membantu membangun fasilitas tersebut.

Melalui kerja sama yang baik, diharapkan ikon wisata alam ini dapat segera pulih.

Pulihnya wisata mangrove tentu akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi masyarakat di sekitar kampung.

“Mungkin perlu ada pendekatan dengan NGO, siapa tahu mereka juga mau renovasi trekkingnya,” pungkas Samsiah. (*)

Bagikan:
Berita Terkait