Mengenal Situs Geologi di Karst Sangkulirang-Mangkalihat yang Sedang Diusulkan ke UNESCO

diterbitkan: Jumat, 8 Mei 2026 08:05 WITA
Labuan Cermin di Bidukbiduk jadi salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Berau.
Labuan Cermin di Bidukbiduk jadi salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Berau.

NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tengah mematangkan langkah untuk menempatkan kekayaan alamnya di panggung dunia.

Kawasan Karst Sangkulirang-Mangkalihat kini menjadi fokus utama dalam ambisi besar menjadi Geopark Global UNESCO, sebuah status prestisius yang akan mengakui nilai universal warisan geologi Benua Etam.

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengungkapkan bahwa wilayah karst ini bukan sekadar hamparan bebatuan purba, melainkan rumah bagi puluhan situs yang memiliki nilai sejarah, keanekaragaman hayati, hingga budaya prasejarah yang tak ternilai harganya.

Kekayaan 26 Situs Geologi Kelas Dunia

Dalam persiapan menuju verifikasi nasional pada Juli 2026, Pemprov Kaltim telah mengidentifikasi setidaknya 26 situs geologi (geosite) yang tersebar di wilayah Kutai Timur dan Berau.

Baca juga  Akhirnya Minta Maaf, DPRD Kaltim Akui "Kebablasan" Soal Anggaran Miliaran Rupiah

Selain itu, terdapat tujuh situs keanekaragaman hayati dan dua situs warisan budaya yang menjadi bagian integral dari pengusulan ini.

“Kami sedang memperkuat visibilitas di lapangan untuk memastikan seluruh standar nasional terpenuhi. Ini adalah bukti bahwa pembangunan Kaltim tidak hanya fokus pada infrastruktur IKN, tetapi juga pada pelestarian pesona geologis kelas dunia,” ujar Ririn di Samarinda, Kamis (7/5/2026).

Beberapa titik yang diproyeksikan menjadi daya tarik utama bagi verifikator UNESCO antara lain:

  • Labuan Cermin: Fenomena alam unik berupa “air dua rasa” (asin dan tawar) yang jernih bak kaca.
  • Kerucut Karst Desa Merabu: Formasi batuan karst berbentuk kerucut yang langka dan menjadi ikon lanskap purba Kalimantan.
  • Gua Prasejarah: Situs budaya yang menyimpan jejak tangan manusia purba sebagai bukti peradaban awal di Borneo.
Baca juga  Harga Daging Sapi di Berau Stabil Rp165 Ribu per Kg, Ayam Potong Mulai Turun Harga

Strategi Branding dan Pengelolaan Mandiri

Untuk meningkatkan profil kawasan, pemerintah daerah telah memulai kampanye branding besar-besaran di pintu masuk utama, termasuk di bandara-bandara di Kabupaten Berau dan Kutai Timur.

Pembangunan gerbang identitas juga dilakukan guna mempertegas batas dan eksistensi kawasan geopark.

Selain fisik, aspek kelembagaan turut menjadi prioritas. Saat ini, pemerintah tengah mengkaji pembentukan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Baca juga  Pemkab Berau Komitmen Jaga Kualitas Kawasan Labuan Cermin, Tahun Ini Akan 'Disuntik' Rp2,5 Miliar

Model ini dirancang agar pengelolaan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat nantinya bisa lebih gesit, mandiri secara finansial, dan tetap menjaga standar konservasi yang ketat.

Puncak Ketepu di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay.
Puncak Ketepu di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay. (Foto: Instagram Kelay Asik)

Pemberdayaan Masyarakat Adat

Inti dari inisiatif Geopark Global UNESCO adalah keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan kemakmuran ekonomi lokal.

Melalui Desa Budaya Merabu, masyarakat adat dilibatkan secara aktif sebagai garda terdepan dalam pariwisata berkelanjutan.

Jika verifikasi nasional ini berhasil, Karst Sangkulirang-Mangkalihat akan secara resmi dinominasikan ke jaringan global UNESCO.

Langkah ini diharapkan tidak hanya melindungi ekosistem karst dari ancaman kerusakan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pariwisata minat khusus bertaraf internasional.(Fatur/NT)

Bagikan:
Berita Terkait