Pemkab Berau Rancang Wisata Mangrove Tak Sekadar Jual Keindahan Alam

diterbitkan: Rabu, 2 September 2026 07:19 WITA
Kawasan Ekowisata Mangrove Tanjung Batu di Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau.
Kawasan Ekowisata Mangrove Tanjung Batu di Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau.

NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau terus membuat gebrakan-gebrakan dalam pengembangan potensi wisata yang ada di Berau.

Salah satunya wisata mangrove. Ke depan, wisata mangrove dirancang tidak lagi hanya sekedar jualan keindahan alam, tapi juga akan dijadikan laboratorium alam sebagai tempat edukasi bagi masyarakat.

Digawangi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, konsep baru ini terus dimatangkan dengan melibatkan sejumlah perangkat daerah terkait, di antaranya Dinas Perikanan (Diskan) dan Dinas Pendidikan (Disdik).

Baca juga  Penyewa Kios Milik Pemkab Berau Akan Didata Ulang, Wabup Gamalis Tegaskan soal Optimalisasi PAD

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa mengatakan, ada beberapa wisata mangrove di Berau, seperti di Dumaring, Tanjung Batu, serta di Teluk Semanting dan Tembudan.

“Fasilitas dasar sudah kita bangun secara bertahap, sambil dilakukan evaluasi dan perbaikan,” kata Yudha.

Kendati demikian, pembangunan infrastruktur saja dinilai tidak cukup. Makanya dirancang untuk pengabungan antara wisata mangrove tersebut dengan ruang kegiatan edukasi.

Lewat konsep ini, para pengunjung diberikan pemahaman soal pentingnya keberadaan ekosistem pesisir. Dua perangkat daerah yang dilibatkan, yakni Diskan dan Disdik akan menjalankan perannya masing-masing.

Baca juga  Dorong Pemasaran Produk UMKM, Pemkab Berau Manfaatkan Status Kampung Wisata

Diskan memberikan edukasi soal ekologi pesisir, fungsi mangrove dalam melindungi garis pantai, serta perannya sebagai habitat berbagai jenis biota laut. Sedangkan, Disdik menyusun metode pembelajaran yang lebih interaktif dan aplikatif.

“Di sini kami tidak bisa jalan sendiri, dukungan dari instansi lainnya tentu sangat kami butuhkan dalam memberikan edukasi kepada wisatawan,” tuturnya.

Selain itu, Yudha juga memberikan atensi terhadap lingkungan. Dalam hal ini, daya dukung lingkungan harus diperhitungkan dalam melakukan pengembangan wisata mangrove di Bumi Batiwakkal— nama lain dari Berau.

Baca juga  Bupati Berau Kecam Penangkapan Hiu di Perairan Derawan

“Ekosistem mangrove juga harus diperhatikan. Setiap kawasan punya karakteristik ekosistem, potensi wisata, serta kondisi sosial masyarakat yang berbeda-beda, jadi pola pengembangannya tidak boleh seragam,” katanya.

Pastinya, konsep yang dirancang ini dapat mendorong penguatan ekonomi daerah dan masyarakat, serta tetap berjalan beriringan dengan penjagaan keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya. (*/adv)

Bagikan:
Berita Terkait