NUSANTARA TERKINI – Warga Kabupaten Berau kembali menelan pil pahit akibat hilangnya pasokan gas LPG tiga kilogram di pasaran.
Kelangkaan bahan bakar bersubsidi ini seolah menjadi penyakit tahunan yang dihadapi pemerintah daerah setiap menjelang hari raya Idulfitri.
Jeritan masyarakat paling keras terdengar dari kawasan pelosok seperti Kecamatan Segah. Mereka mengeluhkan ketiadaan stok tabung hijau tersebut, baik di tingkat pangkalan maupun pengecer selama hari-hari.
Kondisi ini sangat menguras tenaga rumah tangga yang sedang bersiap memasak hidangan untuk hari raya. Keluhan warga bermunculan menghilangkan hilangnya pasokan secara misterius di mana-mana jelang hari besar.
“Sudah berapa hari gas tidak masuk ke Segah,” tulis seorang warga dalam pesan singkatnya pada Sabtu (14/3/26).
Pengawasan Lemah
Kejadian hilangnya pasokan gas melon ini bukanlah sebuah fenomena baru bagi masyarakat daerah tersebut. Lemahnya antisipasi dan pengawasan birokrasi membuat distribusi selalu tersendat saat kebutuhan rumah tangga sedang memuncak.
Krisis energi skala rumah tangga ini rupanya tidak hanya membatasi warga di pedalaman. Hal serupa juga meresahkan penduduk di pusat kota Tanjung Redeb.
Masyarakat mendesak pemerintah daerah untuk segera turun tangan menertibkan rantai distribusi agar tepat sasaran. Warga menuntut agar aparat menindak tegas potensi penimbunan oleh oknum pencari keuntungan yang meresahkan.
Irma yang merupakan warga Tanjung Redeb mengaku, sudah putus asa mencari tabung hijau di berbagai titik pangkalan yang kosong melompong. Ia harus menerima kenyataan pahit saat menemukan sisa barang tersebut di pasaran dengan nilai jual yang sangat mencekik.
“Kalau pun ada harganya mahal bisa tembus 50 ribu per tabung,” keluhnya.(*)





