NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) mulai memacu langkah besar dalam hilirisasi sektor pertanian.
Tidak lagi sekadar fokus pada pangan, komoditas seperti ubi kayu, jagung, hingga limbah tebu (molase) kini diposisikan sebagai pilar utama kemandirian energi nasional melalui produksi bioetanol.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Langkah strategis ini diambil guna menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor di tengah tensi geopolitik global yang kian memanas.
Optimalisasi Bahan Baku Lokal
Selama ini, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah namun belum tergarap maksimal untuk sektor energi. Mentan Amran menunjuk molase atau tetes tebu sebagai salah satu contoh potensial. Selama ini, jutaan ton molase justru diekspor dalam bentuk mentah.
“Bahan baku kita yang kita ekspor itu ada 1 juta ton. Itu molase, tetes. Ini bisa dijadikan etanol,” ujar Amran di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (30/3), seperti dikutip jejaring media ini Beritasatu.com
Selain tebu, tanaman rakyat seperti jagung dan ubi kayu juga masuk dalam skema besar produksi E20—campuran bensin dengan 20 persen etanol.
Amran optimistis pasokan bahan baku dalam negeri sangat mencukupi karena komoditas tersebut sangat mudah tumbuh di berbagai wilayah Indonesia.
Transisi dari Pangan ke Energi
Keberhasilan Indonesia meraih swasembada pangan dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal kuat untuk melangkah ke tahap berikutnya: swasembada energi. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut sektor pertanian kini memiliki peran ganda sebagai sumber bioenergi nabati.
“Swasembada pangan sudah kita raih, dan insyaallah kita akan bergeser. Salah satunya adalah kemandirian energi, di mana pertanian menyumbang dari sisi bioenerginya,” kata Sudaryono.
Langkah ini juga dipicu oleh ketidakpastian jalur distribusi energi di Timur Tengah, terutama gangguan di Selat Hormuz. D
engan mengolah ubi kayu dan tebu menjadi bioetanol di dalam negeri, Indonesia berupaya menciptakan benteng energi yang tidak mudah goyah oleh konflik luar negeri.
Sinergi Lintas Sektor
Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Kementan menekankan pentingnya kolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Hilirisasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat cadangan energi nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani dengan memberikan nilai tambah pada hasil panen mereka yang kini menjadi bahan baku strategis industri biofuel.(*)





