Sinyal Bahaya, Tulang Punggung Pertanian Kaltim Terancam Ambruk

diterbitkan: Sabtu, 4 April 2026 09:04 WITA
Petani Kaltim
Pengunaan alat pertanian modern untuk dukung produktivitas petani di Berau (Foto: Zuhri/NT)

NUSANTARA TERKINI – Sektor perkebunan rakyat yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi pertanian di Kalimantan Timur mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan serius.

Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai menjelaskan bahwa penurunan terdalam pada Maret 2026 terjadi justru pada tanaman perkebunan rakyat.

Kondisi ini menjadi perhatian khusus mengingat kontribusi subsektor tersebut sangat besar bagi struktur ekonomi daerah.

Pelemahan ini berbanding terbalik dengan subsektor hortikultura dan peternakan yang justru masih mencatatkan pertumbuhan positif.

Baca juga  Final! Porprov VIII Kaltim 2026 Resmi Digelar November di Kabupaten Paser

“Data terbaru mencatat Nilai Tukar Petani atau NTP Kaltim berada di angka 148,00. Angka tersebut terkoreksi sebesar 0,72 persen jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya,”bebernya, Sabtu (4/4/26).

Ketimpangan Pendapatan dan Pengeluaran

Pelemahan kesejahteraan ini dipicu oleh ketimpangan tajam antara kenaikan pendapatan yang stagnan dengan lonjakan pengeluaran petani. Indeks harga yang diterima petani hanya naik tipis sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, beban biaya operasional dan konsumsi rumah tangga di perdesaan melonjak hingga 0,74 persen. Tekanan inflasi di wilayah perdesaan ini membuat ruang keuangan para petani semakin menyempit.

Baca juga  Buntut Tabrakan di Pilar Jembatan Mahakam, KSOP Bekukan Agen Pelayaran Tongkang

Kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga sebesar 0,88 persen menjadi sinyal kuat meningkatnya beban hidup sehari-hari.

“Pendapatan yang dihasilkan saat ini dinilai tidak cukup untuk mengimbangi pengeluaran yang terus membengkak,”jelasnya.

Pertumbuhan Positif Sektor Hortikultura

Di tengah tekanan pada sektor perkebunan, subsektor hortikultura justru tumbuh sebesar 2,81 persen berkat perbaikan harga komoditas.

Baca juga  Sepanjang Tahun 2025 Kota Samarinda 23 Kali Kebanjiran dan Alami Ratusan Kejadian Tanah Longsor

Selain itu, sektor peternakan juga ikut naik sebesar 1,64 persen didorong tingginya harga ternak dan unggas.

Kaltim menjadi satu-satunya provinsi di Pulau Kalimantan yang mengalami penurunan NTP pada periode Maret 2026. Hal ini menunjukkan adanya faktor spesifik yang menekan daya tahan petani di Bumi Etam.

“Penurunan terdalam terjadi pada tanaman perkebunan rakyat. Ini perlu perhatian serius karena kontribusinya sangat besar”, tutupnya.(*/Rusdiono/NT)

Bagikan:
Berita Terkait