BNN Tangkap Eks Intelijen dan Ahli Biologi Rusia Peracik Narkoba di Bali

diterbitkan: Sabtu, 7 Maret 2026 04:56 WITA

NUSANTARA TERKINI Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia berhasil membongkar sindikat laboratorium narkoba rahasia di Kabupaten Gianyar. Fasilitas pembuatan obat terlarang jenis mephedrone tersebut ternyata dikendalikan langsung oleh jaringan berbahaya asal Rusia.

Dua warga negara asing asal Eropa Timur itu memiliki latar belakang profesi yang sangat mencengangkan. Keduanya diduga kuat sebagai peracik ahli sekaligus pengedar narkotika yang bersembunyi di balik kemewahan sebuah vila sewaan.

Baca juga  Kakek 80 Tahun di Samarinda Bunuh Kekasih, Perkara Janji Modal Jual Sayur

“Keberhasilan ini merupakan hasil operasi gabungan secara intensif sejak Januari hingga berhasil mengungkap laboratorium rahasia,” kata Kepala Badan Narkotika Nasional Suyudi Ario Seto pada Sabtu (7/3/2026).

Profil Mengejutkan Tersangka

Penyelidikan aparat mengungkap bahwa tersangka perempuan berinisial N memiliki rekam jejak akademik di bidang biologi. Pengetahuan ilmiah tersebut disalahgunakan untuk meracik berbagai bahan kimia berbahaya menjadi narkotika sintetis mematikan.

Fakta lebih mengejutkan datang dari tersangka pria berinisial ST yang ternyata pernah mengabdi di kemiliteran negaranya. Ia mengaku sempat bertugas sebagai agen intelijen sebelum akhirnya pensiun akibat masalah kesehatan saraf punggung.

Baca juga  Rugikan Negara Rp208 Miliar, Polisi Tetapkan 6 Tersangka Kasus Kredit Fiktif di Bank Kaltimtara

Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Roy Hardi Siahaan membeberkan bahwa sindikat ini sangat rapi dalam menutupi jejak kejahatannya. Mereka sengaja berpindah vila di Bali dan hanya mengolah bahan kimia pada saat warga terlelap tidur.

“Aktivitas produksi dilakukan pada malam hari sekitar pukul dua belas malam hingga empat pagi,” ungkap Roy.

Baca juga  Jatanras Polres dan Polsek Gunung Tabur Ungkap Pencuri Kerbau di Kebun Sawit

Petugas gabungan menyita lebih dari tujuh kilogram mephedrone siap edar beserta ratusan liter cairan prekursor di lokasi kejadian. Peralatan laboratorium canggih seperti pengaduk magnetik hingga respirator pelindung juga turut disita sebagai barang bukti kejahatan.

“Kalau melihat jumlahnya ini yang terbesar yaitu tujuh koma tiga kilogram netto,” pungkasnya.

Bagikan:
Berita Terkait