Melihat Pengorbanan sang Juru Selamat, Inilah Sejarah Jumat Agung

diterbitkan: Jumat, 3 April 2026 11:42 WITA
Jumat Agung
Visualisasi Jalan Salib saat peringatan Jumat Agung di Gereja Katedral, Jakarta. (Foto: Beritasatu.com)

NUSANTARA TERKINI,- Bagi umat kristiani di seluruh dunia, Jumat Agung 2026 menjadi salah satu hari paling sakral dalam kalender liturgi. Perayaan ini menandai puncak pekan suci, saat orang beriman mengenang penyaliban dan wafat Yesus Kristus di Bukit Golgota.

Suasana peringatannya identik dengan kesunyian, kedukaan, serta refleksi mendalam. Di balik nuansa tersebut, Jumat Agung berdiri sebagai fondasi iman Kristen karena diyakini sebagai momen penebusan dosa umat manusia.

Memahami Jumat Agung berarti menelusuri rangkaian peristiwa di Yerusalem ribuan tahun lalu. Perjalanan dimulai dari pengkhianatan di Taman Getsemani, berlanjut ke persidangan yang sarat ketidakadilan, hingga penderitaan di kayu salib. Setiap bagian memuat makna teologis yang kuat dan terus dikenang hingga kini.

Akar Sejarah dan Peristiwa di Balik Jumat Agung

Secara historis, Jumat Agung jatuh pada hari Jumat sebelum Minggu Paskah. Peristiwa ini berawal setelah Perjamuan Terakhir, ketika Yesus ditangkap di Taman Getsemani.

Ia kemudian dihadapkan kepada Sanhedrin dan akhirnya diadili oleh penguasa Romawi, Pontius Pilatus. Ketaatan Yesus dalam menghadapi penderitaan sering dikaitkan dengan nubuat dalam Yesaya 53:5.

Ayat tersebut menggambarkan penderitaan sebagai jalan pemulihan, di mana dosa manusia diremukkan melalui diri-Nya demi kesembuhan spiritual bagi banyak orang.

Baca juga  Tahun Ini Pemkab Bulungan Beri Potongan Pajak BPHTB Sebesar 50 Persen

Proses tersebut berujung pada hukuman mati melalui penyaliban, metode eksekusi Romawi yang terkenal kejam dan merendahkan martabat. Bagi umat Kristen, peristiwa ini bukan sekadar hukuman politik, melainkan pengorbanan sukarela demi keselamatan dunia.

Dalam sejarah Gereja, peringatan Jumat Agung telah berlangsung sejak masa awal Kekristenan. Umat mulai mengadakan ibadah khusus untuk mengenang sengsara dan wafat Kristus, lalu berkembang menjadi bagian penting dari rangkaian Pekan Suci.

Banyak orang mempertanyakan alasan di balik penyebutan Good Friday atau Jumat yang baik, mengingat peristiwa yang dikenang penuh penderitaan. Dalam bahasa Indonesia, istilah Jumat Agung dipakai untuk menekankan kebesaran maknanya.

Secara etimologis, terdapat beberapa teori mengenai kata good. Sebagian menyebut istilah tersebut berasal dari God’s Friday. Namun, banyak ahli bahasa menilai good merujuk pada makna kuno yang berarti suci atau sakral.

Makna ini sejalan dengan Roma 5:8, yang menekankan pengorbanan Kristus sebagai bentuk kasih tertinggi. Dari sudut pandang iman, penderitaan tersebut menghasilkan kebaikan terbesar bagi umat manusia.

Makna Teologis Jumat Agung

Dalam teologi Kristen, Jumat Agung memiliki arti yang sangat mendalam. Hari ini dipandang sebagai puncak misi Yesus di dunia, yaitu menebus dosa manusia melalui pengorbanan diri.

Baca juga  2024 Ini Dua Investor Asing Akan Turut Membangun IKN

Kematian di kayu salib dilihat sebagai wujud kasih sempurna. Pengorbanan tersebut membuka jalan menuju pengampunan dan kehidupan kekal. Konsep ini dikenal sebagai penebusan dosa.

Selain itu, Jumat Agung juga mencerminkan ketaatan dan kerendahan hati. Yesus tetap taat hingga akhir, meskipun menghadapi penderitaan yang luar biasa. Nilai ini menjadi teladan dalam kehidupan umat sehari-hari.

Tradisi dan Praktik Liturgi di Berbagai Negara

Berbagai gereja memiliki cara khas dalam memperingati Jumat Agung. Di Gereja Katolik Roma, tidak ada perayaan Misa atau Ekaristi pada hari ini. Sebagai gantinya, umat mengikuti ibadat Sabda, penghormatan salib, serta perenungan tujuh perkataan terakhir Yesus di kayu salib.

Salah satu yang paling dikenal terdapat dalam Yohanes 19:30: “Sudah selesai”. Komuni yang dibagikan berasal dari konsekrasi pada Kamis Putih. Suasana gereja dibuat sederhana, altar dikosongkan, dan lonceng tidak dibunyikan sebagai tanda berkabung.

Di luar ibadat formal, banyak komunitas menjalankan tradisi Jalan Salib atau Stations of the Cross, yang menggambarkan perjalanan Yesus menuju Kalvari. Puasa dan pantang juga dilakukan sebagai bentuk disiplin rohani.

Baca juga  Menaker: Perusahaan Perlu Bantu Pekerja agar Kariernya Terus Berkembang

Pada beberapa negara, tradisi kuliner turut hadir, seperti hot cross buns di Inggris, roti dengan tanda salib sebagai simbol penyaliban. Walau zaman terus berubah, makna Jumat Agung tetap terjaga. Pada banyak negara, hari ini ditetapkan sebagai hari libur nasional agar umat dapat berfokus pada ibadah dan refleksi.

Tanggalnya bersifat berubah setiap tahun karena mengikuti siklus bulan, sama seperti Paskah. Biasanya jatuh antara akhir Maret hingga akhir April. Dalam kehidupan modern, Jumat Agung menjadi momen untuk merenung, memperbaiki diri, serta memperdalam iman.

Nilai kasih, pengorbanan, dan pengampunan tetap relevan, baik dalam kehidupan spiritual maupun sosial. Selain itu, Jumat Agung membawa pesan harapan.

Dalam tradisi Kristen, hari ini selalu diikuti oleh Paskah yang melambangkan kebangkitan. Dari penderitaan lahir kehidupan baru, menjadi pengingat kuat tentang harapan di tengah kesulitan.

Jumat Agung 2026 bukan sekadar peringatan sejarah. Hari ini menjadi simbol pengorbanan tanpa pamrih dan harapan yang tetap hidup. Melalui refleksi atas penderitaan Yesus, umat diajak memahami kedalaman kasih serta pentingnya pengampunan dalam kehidupan sehari-hari.(*/Beritasatu.com)

Bagikan:
Berita Terkait