NUSANTARA TERKINI – Sebuah ironi besar terjadi di jantung perkebunan kelapa sawit Kabupaten Berau. Kecamatan Kelay, yang dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah dan dikepung oleh investasi perkebunan besar, justru mencatatkan angka stunting tertinggi dibandingkan kecamatan lainnya di Bumi Batiwakkal.
Kondisi memprihatinkan ini memicu reaksi keras dari Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said. Ia mempertanyakan dampak nyata kehadiran perusahaan-perusahaan besar terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar, mengingat sebagian besar kasus gizi kronis ini justru ditemukan di kampung-kampung lingkar sawit.
“Kalau secara logika, harusnya dengan adanya perusahaan sawit, masyarakat lebih terjamin. Tapi justru di wilayah itu angka stunting cukup tinggi,” ujar Said kepada awak media, Minggu (19/4/2026).
Potensi Melimpah, Pengelolaan Lemah
Said menilai, Kecamatan Kelay sebenarnya tidak kekurangan potensi ekonomi. Namun, kekayaan alam tersebut belum dikelola secara maksimal untuk meningkatkan kualitas hidup warga lokal.
Ia menduga angka stunting yang tercatat saat ini hanyalah “puncak gunung es”, karena kemungkinan besar masih banyak kasus di lapangan yang belum terlaporkan secara resmi.
Pemerintah Kabupaten Berau menegaskan bahwa mereka sangat terbuka terhadap investasi yang masuk, namun dengan syarat mutlak: harus membawa kesejahteraan bagi rakyat, bukan sekadar eksploitasi lahan.
“Kami terbuka terhadap investasi, tapi tujuannya jelas yaitu menyejahterakan masyarakat,” tegasnya.
Sentilan untuk Korporasi: Stop Diskriminasi!
Sekda Berau memberikan peringatan keras kepada pihak perusahaan agar tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata.
Perusahaan diingatkan untuk aktif dalam program pemberdayaan masyarakat dan memastikan distribusi manfaat pembangunan sampai ke tangan yang berhak tanpa adanya diskriminasi.
“Jangan sampai masyarakat terkotak-kotak atau ada diskriminasi terhadap hak yang seharusnya mereka dapatkan,” tambah Said.
Guna menekan angka stunting ini, pemerintah daerah menuntut peran aktif aparatur kecamatan dan kepala kampung untuk menjadi jembatan yang tegas antara kepentingan masyarakat dan perusahaan.
Kolaborasi yang sinergis diharapkan mampu mengubah wajah Kelay dari wilayah dengan stunting tertinggi menjadi wilayah yang benar-benar jaya secara ekonomi dan kesehatan.
“Kami berharap peran kecamatan dan kepala kampung bisa lebih maksimal dalam membina dan menyinergikan semua pihak,” tutupnya.(Ika/NT)





