Mahasiswa Lumpuhkan Akses Jembatan Mahakam, Sebagai Bentuk Mosi Tidak Percaya Pemerintah

diterbitkan: Kamis, 18 Juni 2026 11:57 WITA
Demo Jembatan Mahakam, Samarinda
Aksi Mahasiswa di Jembatan Mahakam Kamis (18/6/26) sore.

NUSANTARA TERKINI – Kawasan urat nadi transportasi Kota Samarinda lumpuh total hingga malam hari. Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di kawasan turunan Jembatan Mahakam, Jalan Slamet Riyadi, Kamis (18/6/2026).

Alih-alih mendatangi Gedung DPRD Provinsi Kaltim atau Kantor Gubernur sebagaimana aksi demonstrasi pada umumnya, massa justru memilih untuk memblokade kawasan kaki jembatan vital tersebut.

Langkah ekstrem ini diambil sebagai simbol runtuhnya kepercayaan mereka terhadap para pemangku kebijakan di daerah maupun pusat.

Boikot Gedung Rakyat Akibat Hilangnya Kepercayaan

Pemilihan lokasi aksi di pintu masuk utama penghubung antar-wilayah Samarinda tersebut bukan tanpa alasan. Massa menilai menyuarakan aspirasi di depan kantor pemerintahan kini sudah tidak lagi efektif dan hanya berakhir pada janji manis normatif.

Baca juga  Toilet Jadi Sorotan, Disbudpar Berau Siapkan Standar Wisata Bertaraf Internasional

Humas Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat, Maulana, secara blak-blakan mengungkapkan bahwa gerakan ini didasari oleh mosi tidak percaya yang mendalam dari elemen mahasiswa dan masyarakat sipil terhadap integritas para legislator dan kepala daerah.

“Kami sudah tidak percaya anggota-anggota dewan yang ada di DPRD. Kami sudah tidak percaya kepala daerah kami. Maka kami memilih untuk aksi di sini,” ujar Maulana tegas di sela-sela riuhnya riak demonstrasi.

Maulana mengakui bahwa dalam strategi taktis di lapangan, massa memang sempat berencana melakukan penutupan total akses Jembatan Mahakam guna memberikan tekanan psikologis yang kuat kepada penguasa. Siasat melumpuhkan jalur publik ini ditujukan agar jeritan tuntutan mereka didengar secara langsung.

Baca juga  Warga Resah Tambang Dekat Permukiman, DPRD Berau Sidak Lokasi yang Dikeluhkan Warga

“Kami memang rencananya untuk nutup jembatan. Memang garis besar dari kami tidak menutup jalanan (secara permanen), tapi setidaknya aspirasi kami disampaikan,” lanjutnya.

Bawa 5 Tuntutan Makro, Bertahan Hingga Malam Hari

Meskipun memicu gelombang protes keras dari para pengguna jalan—termasuk para pengemudi ojek online (ojol) yang mengeluhkan pendapatan harian mereka tersendat akibat macet—massa aksi tetap bergeming. Mereka bertahan menduduki jalan hingga pukul 20.30 Wita.

Dalam demo jembatan mahakam tersebut, Aliansi Gerakan Rakyat Menggugat menyuarakan lima poin tuntutan krusial yang dinilai sedang mencekik hajat hidup masyarakat sipil. Kelima tuntutan tersebut di antaranya:

  • Menurunkan harga BBM dan komoditas bahan pokok di pasaran.
  • Menghentikan segala bentuk tindakan represif aparat penegak hukum terhadap masyarakat sipil.
  • Mengevaluasi secara total program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mendesak penghentian Koperasi Desa Merah Putih.
  • Menghentikan praktik pemborosan anggaran negara baik di struktur APBN maupun APBD.
  • Mendesak agar hak angket di DPR-RI segera diparipurnakan.
Baca juga  ASN Kaltim Boleh Kerja dari Mana Saja, Layanan Publik Tetap Buka Penuh

Massa menegaskan bahwa pendudukan kawasan Jembatan Mahakam ini barulah langkah awal. Apabila kelima poin tuntutan tersebut tetap diabaikan oleh lembaga legislatif maupun eksekutif, mereka berjanji akan kembali turun ke jalan dengan eskalasi massa yang jauh lebih besar.(*)

Bagikan:
Berita Terkait