SAMARINDA – Korsleting listrik menjadi penyebab utama meningkatnya kasus kebakaran di Kota Samarinda sepanjang November hingga awal Desember 2025. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda mencatat 13 kejadian kebakaran yang menghanguskan total 21 bangunan dalam periode tersebut, sehingga menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) imbauan kewaspadaan kembali ditegaskan kepada masyarakat.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda, Hendra AH, mengungkapkan sebaran kejadian kebakaran tersebut tidak merata di seluruh kecamatan. Pada awal Desember saja, empat ruko telah dilaporkan terbakar.
“Samarinda Ulu menjadi wilayah dengan kejadian paling banyak, ada empat titik. Disusul Samarinda Utara tiga titik, lalu Samarinda Kota dua titik, Sungai Pinang dua titik, Samarinda Seberang dua titik, dan Loa Janan Ilir satu titik,” jelasnya.
Hendra AH menegaskan, hampir seluruh kejadian kebakaran dalam periode ini dipicu oleh korsleting listrik. Ia menyebut bahwa faktor kelalaian dalam melakukan pemeriksaan instalasi listrik menjadi risiko besar yang sering terabaikan oleh masyarakat.
“Terbanyak dan hampir semua akibat korsleting listrik, masyarakat lebih waspada dan melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kondisi listrik di rumah maupun tempat usaha,” Ujarnya
Lebih lanjut ia menegaskan, instalasi listrik yang tidak sesuai kapasitas, penggunaan colokan bertumpuk, hingga stop kontak kendor menjadi pemicu panas berlebih. Apalagi jika dekat dengan bahan mudah terbakar seperti partisi triplek.
“Periksa instalasinya apakah sudah sesuai kapasitasnya. Jangan sampai colokan listrik berlapis atau kendor sehingga menyebabkan panas kemudian terbakar,” ucapnya lagi.
Selain itu, ia menekankan setiap bangunan wajib memiliki sedikitnya satu alat pemadam api ringan (APAR) sebagai langkah antisipasi awal. Menjelang libur Nataru, ia juga mengingatkan masyarakat yang meninggalkan rumah dalam waktu lama agar memastikan semua perangkat elektronik dan kompor dalam keadaan mati sebelum bepergian.






