NUSANTARA TERKINI – Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur memasuki fase krusial. Akumulasi kemunculan titik panas Karhutla Kaltim sepanjang bulan Agustus 2026 tercatat telah memecahkan rekor tertinggi dalam sedekade terakhir, memicu peningkatan status kesiapsiagaan darurat di seluruh wilayah kabupaten/kota.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jumlah hotspot di Kaltim hingga 19 Agustus 2026 telah melonjak dramatis menyentuh angka 9.861 titik.
Angka ini secara resmi melampaui catatan kelam bencana karhutla pada Agustus 2015 silam yang berada di angka 9.793 titik saat diterjang fenomena El Nino ekstrem.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil pemantauan teranyar di lapangan, pihaknya mendeteksi sedikitnya 24 titik panas aktif yang berpotensi kuat memicu kobaran api besar.
“Berdasarkan pemantauan di lapangan, kami mencatat keberadaan 24 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah kabupaten. Kondisi ini menjadi bahan evaluasi serius bagi kami untuk terus memperkuat sistem penanggulangan hingga tingkat tapak,” ujar Buyung di Samarinda.
Paser dan Berau Jadi Sorotan Utama
Dari pemetaan kerawanan bencana, BPBD Kaltim memberikan perhatian khusus terhadap dua daerah yang mencatatkan eskalasi terparah, yakni Kabupaten Paser dan Kabupaten Berau. Paser menjadi kawasan dengan konsentrasi titik panas paling rapat, sementara Berau membutuhkan penanganan ekstra cepat akibat perambatan api yang meluas.

Guna mengantisipasi amukan api meluas ke kawasan pemukiman maupun hutan lindung, BPBD Kaltim menerjunkan tim gabungan yang disiagakan secara nonstop di posko-posko terdepan.
“Kami memperkuat patroli dan menyiagakan minimal 10 personel pada setiap regu. Pasukan ini dibantu langsung oleh prajurit TNI, aparat kepolisian, serta relawan desa,” jelas Buyung.
Terobos Medan Berat Menggunakan Selang 200 Meter
Dalam eksekusi pemadaman di lapangan, tim Satgas Gabungan masih dihadapkan pada kendala klasik berupa sulitnya akses geografis. Jalur darat yang terjal dan sempit membuat armada mobil tangki pemadam utama kerap tidak bisa menjangkau titik pusat kebakaran (zero point).
Memutar otak di tengah keterbatasan, para petugas di lapangan terpaksa mengandalkan taktis manual dengan memboyong tangki air portabel model bongkar-pasang ke dalam hutan.
“Petugas kami di lapangan terpaksa menggunakan tangki air portabel bongkar-pasang dan menyambung selang hingga sepanjang 200 meter demi membasahi lahan yang terbakar,” ungkapnya.
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang dan menyeluruh, Pemprov Kaltim kini tengah mematangkan usulan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan. Langkah ini difokuskan untuk membasahi area rawan terbakar sekaligus mengisi ketersediaan embung-embung air pertanian warga, khususnya di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).






