NUSANTARA TERKINI – Fenomena kemarau panjang yang diperparah gelombang El Nino memicu eskalasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Peta kerawanan bencana daerah kini memerah setelah luas lahan terbakar Berau dilaporkan telah menembus angka ratusan hektare hanya dalam tempo dua pekan terakhir.
Berdasarkan data kompilasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau hingga Sabtu (22/8/2026), tercatat sedikitnya 386,6 hektare area vegetasi dan lahan masyarakat ludes dilalap si jago merah.
Bencana ekologi ini merambah hampir ke seluruh penjuru daerah, melingkupi 12 dari total 13 kecamatan yang ada di Kabupaten Berau.
Lonjakan kejadian karhutla tersebut sejalan dengan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau yang merekam kehadiran ratusan titik panas (hotspot) dengan intensitas tinggi secara konstan.
Data BPBD Berau memetakan bahwa Kecamatan Sambaliung menjadi wilayah terdampak paling parah dengan akumulasi kerusakan lingkungan tertinggi. Di kawasan ini, api membakar sekitar 75 hektare lahan yang dipicu dari 35 kali insiden kebakaran terpisah.
Posisi kedua wilayah paling rawan diduduki oleh Kecamatan Teluk Bayur yang mencatatkan total 69,5 hektare lahan terbakar. Disusul kemudian oleh Kecamatan Tabalar di kawasan pesisir dengan luas area terbakar mencapai 60 hektare.
Tidak hanya wilayah perkotaan dan penyangga, amukan karhutla akibat El Nino ini juga merembet hingga ke pulau-pulau terluar dan kawasan pesisir selatan Berau. Kecamatan Pulau Derawan mencatatkan kerusakan lahan seluas 59,5 hektare, sementara Kecamatan Biatan membukukan 39 hektare area terbakar.
| No | Kecamatan | Luas Lahan Terbakar (Hektare) |
| 1 | Sambaliung | 75,0 |
| 2 | Teluk Bayur | 69,5 |
| 3 | Tabalar | 60,0 |
| 4 | Pulau Derawan | 59,5 |
| 5 | Biatan | 39,0 |
| 6 | 7 Kecamatan Lainnya | 83,6 |
| Total | 12 Kecamatan | 386,6 Hektare |
Ancaman Kerusakan Ekosistem dan Evaluasi Penanganan
Kondisi tanah yang mengering parah serta ketersediaan bahan bakar alami berupa semak belukar yang melimpah membuat proses pemadaman oleh Satgas Karhutla di lapangan kerap menemui kendala berat.
Angin kencang dan minimnya sumber air di lokasi kejadian turut mempercepat perambatan api ke area yang lebih luas.
Pihak BPBD Berau menegaskan bahwa angka 386,6 hektare tersebut masih merupakan data perkiraan sementara dan berpotensi terus bergerak seiring proses pendataan ulang serta upaya pemadaman yang masih berlangsung di sejumlah titik krisis.
Guna menekan potensi perluasan area terbakar, BPBD bersama Satgas Gabungan terus menyiagakan personel pemadam darat sembari berkoordinasi erat dengan opsi bantuan pemadaman udara dari pemerintah pusat dan TNI.(*)






