NUSANTARA TERKINI – Gelombang wisatawan dari berbagai penjuru daerah kini tengah membanjiri destinasi-destinasi unggulan di Kabupaten Berau.
Musim libur panjang menjadi momentum emas bagi para pelancong untuk menjelajahi keindahan wilayah pesisir yang hingga kini tetap memegang takhta sebagai primadona utama pariwisata Bumi Batiwakkal.
Namun, di balik keramaian yang membawa angin segar bagi roda ekonomi tersebut, sebuah persoalan klasik kembali muncul dan menghantui kelestarian alam, yakni tumpukan sampah yang ditinggalkan oleh para pengunjung.
Masalah ini menjadi perhatian serius bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau.
Staf Teknis sekaligus Pengawas Kepariwisataan Disbudpar Berau, Andi Nursyamsi, melalui Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama, Ing Ta Wijaya, mengungkapkan, sampah merupakan kendala paling krusial yang selalu berulang di setiap objek wisata.
Lonjakan jumlah manusia yang berkumpul secara masif di satu titik dalam waktu yang bersamaan sering kali melampaui kapasitas pengelolaan kebersihan yang ada di lapangan.
Kondisi ini menciptakan tantangan berat bagi para petugas kebersihan dan pengelola destinasi yang harus bekerja ekstra keras menjaga estetika kawasan wisata.
Fenomena “satu titik keramaian” di musim libur diakui menjadi pemicu utama kegagalan sistem pengelolaan sampah yang biasanya berjalan normal di hari biasa.
“Karena kan peningkatannya kan lonjak banget, apalagi di musim liburan di mana semua orang tuh libur terus di satu titik yang sama. Jadi masalah utamanya itu yang pertama itu pasti sampah,” ungkapnya.
Kasus di Pulau Kaniungan menjadi salah satu contoh nyata betapa seriusnya masalah limbah ini.
Disbudpar Berau telah melakukan langkah mitigasi cepat dengan berkoordinasi bersama pihak pemerintah kampung untuk mengkondisikan tumpukan sampah agar tidak merusak ekosistem laut.
Wijaya menjelaskan, sebenarnya setiap daerah tujuan wisata telah memiliki sistem pengelolaan sampah masing-masing.
Namun, sistem tersebut seringkali kewalahan saat wisatawan tidak memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.
Tindakan membuang sampah sembarangan menciptakan beban kerja ganda bagi para pengelola wisata yang sudah sangat sibuk melayani arus pengunjung.
Menurutnya, kesadaran pribadi dari setiap wisatawan jauh lebih efektif daripada sekadar memasang papan imbauan di setiap sudut pantai.
“Pengelolanya bakal sibuk banget jadi yang dipermasalahkan ada sampah yang dibuang sembarangan,” ujarnya.
Dalam menangani kompleksitas masalah di musim liburan, Disbudpar Berau tidak bergerak sendiri.
Kolaborasi intensif dilakukan bersama berbagai pemangku kepentingan (stakeholder), mulai dari aparatur kampung, Badan Usaha Milik Kampung (BUMK), hingga Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Kerja sama ini tidak hanya terfokus pada urusan kebersihan, tetapi juga mencakup aspek keamanan, kenyamanan transportasi, hingga ketersediaan akomodasi bagi para turis.
Persiapan dan mitigasi awal telah dilakukan jauh-jauh hari untuk memastikan pengalaman berwisata di Bumi Batiwakkal tetap berkesan dan minim kendala.
Harapannya, para pelancong dapat menikmati keindahan alam Berau dengan tetap menjunjung tinggi etika lingkungan.
“Kalau dari dinas itu pasti berkolaborasi dengan stakeholder terkait. Jadi masalah seperti sampah, keamanan, transportasi, akomodasi dan segala macamnya itu sudah kami persiapkan dan mitigasi lebih awal,” pungkasnya. (Adv)





