NUSANTARA TERKINI – Ketahanan pangan Kabupaten Tana Tidung kembali diuji menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah. Ketergantungan akut pada pasokan daerah lain, membuat harga komoditas cabai rawit di wilayah ini meroket tajam hingga menembus angka Rp 100 ribu per kilogram.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Tana Tidung M. Tahir menyebut, lonjakan harga ini dipicu oleh rantai pasok yang terjepit. Tana Tidung harus bersaing ketat memperebutkan kuota dengan daerah tetangga yang memiliki daya serap pasar lebih masif.
“Seperti di Tarakan, kebutuhan mereka meningkat sehingga pasokan yang masuk ke Tana Tidung juga terbatas,” ujarnya Sabtu (07/03/26).
Hukum Rimba Distribusi Pangan
Kenaikan harga saat ini mencapai 18 persen dari angka normal Rp 80 ribu per kilogram, ini tak lepas dari minimnya produksi cabai dari petani lokal.
Hukum rimba distribusi ini, memukul nyali para pengecer di Pasar Imbayud Taka yang akhirnya memilih tidak menyetok barang.
“Kenaikan harga ini karena keterbatasan stok dari luar. Sementara pasokan dari petani lokal juga kurang,” jelas Tahir.
Kendati harga varian cabai merah besar dan keriting turut terkerek naik sekitar 5 persen menjadi Rp 65 ribu per kilogram, komoditas pangan pokok lainnya masih tergolong aman. Bahan dapur esensial seperti bawang merah, daging, ayam, hingga telur ayam terpantau kebal dari badai inflasi komoditas pedas tersebut. (*)





