Menilik Tantangan Kopi Lokal Berau: Menembus Pasar Kedai Kopi yang Terus Tumbuh

diterbitkan: Minggu, 19 April 2026 09:20 WITA
Kebun Kopi Liberika di Berau. (Foto: Istimewa)

NUSANTARA TERKINI – Fenomena menjamurnya kedai kopi di Kabupaten Berau belum menjadi jaminan bagi kesejahteraan petani kopi lokal.

Meski konsumsi meningkat pesat, sebagian besar biji kopi yang disajikan di meja-meja kafe justru masih didatangkan dari luar daerah, meninggalkan potensi emas petani lokal yang belum tergarap maksimal.

Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman, menyoroti adanya hambatan struktural yang membuat kopi asli Berau sulit bersaing di pasar sendiri. Padahal, beberapa wilayah di Bumi Batiwakkal memiliki karakteristik lahan yang mampu menghasilkan cita rasa unik dan kompetitif.

Baca juga  Pedagang Kuliner Tepian Segah Gelar Buka Puasa Bersama dan Berbagi Takjil

“Potensi kopi di Berau cukup besar. Namun, ketergantungan pelaku usaha pada pasokan luar daerah menjadi indikator bahwa produksi lokal kita belum optimal mengisi kebutuhan pasar sendiri,” ujar Sakirman, Minggu (19/4/2026).

Kelompok Tani Sebagai Fondasi

Salah satu tantangan mendasar yang dihadapi adalah belum kuatnya kelembagaan petani di tingkat kampung. Sakirman menekankan bahwa tanpa wadah kelompok tani yang terorganisir, petani akan kesulitan melakukan koordinasi produksi dan mengakses program strategis pemerintah.

“Kelompok tani itu kunci. Dari situ petani bisa mendapatkan pendampingan, berbagi pengetahuan, hingga memperkuat posisi tawar mereka dalam mengembangkan usaha,” jelasnya.

Baca juga  Polres Berau Libatkan Tim Food Security, Pastikan 2.299 Paket Makanan Bergizi Aman Dikonsumsi

Dengan kelembagaan yang solid, akses terhadap bantuan sarana produksi dan pelatihan akan jauh lebih mudah terserap oleh masyarakat.

Modernisasi Peralatan Pascapanen

Selain urusan organisasi, infrastruktur pengolahan juga menjadi batu sandungan. Agar mampu menembus standar kualitas kedai kopi kekinian, kopi Berau tidak bisa lagi hanya dijual dalam bentuk mentah (green bean) tanpa pengolahan yang mumpuni.

Sakirman mendorong adanya dukungan fasilitas pengeringan hingga mesin pemanggangan (roasting) yang modern.

Tujuannya jelas: meningkatkan nilai tambah produk sehingga petani tidak hanya menjadi penyedia bahan baku, tetapi juga produsen produk olahan yang siap saji.

Baca juga  Rangsang Sektor Produktif, Kaltim Diguyur Dana KUR Rp4,6 Triliun pada 2026

Mengisi Pasar Sendiri

Peluang ekonomi ini sangat terbuka lebar jika sinergi antara petani, pelaku usaha kedai kopi, dan pemerintah daerah terjalin erat.

Jika produksi lokal mampu konsisten secara kualitas dan kuantitas, maka pasar di Berau perlahan bisa mandiri tanpa harus “impor” dari daerah lain.

“Kalau didukung peralatan mumpuni dan dikelola secara berkelanjutan, kopi Berau punya peluang besar menjadi kekuatan ekonomi daerah dan meningkatkan pendapatan petani kita di kampung-kampung,” pungkasnya.(/Ika/NT)

Bagikan:
Berita Terkait