NUSANTARA TERKINI – Wakil Bupati Berau, Gamalis mengungkapkan bahwa nelayan-nelayan di Berau berhadapan dengan keterbatasan teknologi yang mebuat hasil tangkapan menjadi tidak optimal. Namun, selain soal teknologi, Gamalis juga menyorot beberapa hal lain yang menjadi tantangan bagi perkembangan nelayan di Bumi Batiwakkal.
Gamalis menjelaskan nelayan di Berau hingga saat ini masih berhadapan dengan praktik penangkapan ikan secara illegal, yang tidak jarang juga bersifat merusak. Diakuinya, ada beberapa titik di perairan Berau yang ditemukan jejak-jejak penggunaan bom dan racun ikan.
“Tentunya hal ini memberikan dampak serius pada ekosistem kelautan di wilayah Berau.
Orang nomor dua di Berau ini menjelaskan bahwa, kerusakan terumbu karang akibat praktik tersebut membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih. Dampaknya tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam keberlanjutan sumber daya ikan yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat pesisir.
Gamalis menekankan, pemerintah daerah bersama aparat terkait terus meningkatkan pengawasan di wilayah perairan. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup tanpa kesadaran masyarakat.
“Kami terus memperketat pengawasan, tetapi yang tak kalah penting adalah edukasi untuk masyarakat. Nelayan harus paham bahwa menjaga laut berarti menjaga masa depan mereka sendiri,” tegasnya.
Ia menekankan, sektor perikanan memiliki potensi besar untuk menjadi motor penggerak ekonomi daerah jika dikelola secara tepat. Penguatan kapasitas nelayan, penyediaan sarana modern, serta pengembangan akses pasar dinilai menjadi langkah penting yang harus segera dilakukan.





