Saat Laut Nunukan Kembali Dipenuhi Tali Rumput Laut, Usai Harga Jual Tembus Rp17 Ribu

diterbitkan: Jumat, 17 April 2026 07:00 WITA
Rumput laut nunukan
Kapal-kapal para petani rumput laut di Nunukan. (Foto: Istimewa)

NUSANTARA TERKINI – Membaiknya harga jual rumput laut di tingkat global memicu semangat masyarakat Kabupaten Nunukan untuk kembali menekuni usaha budidaya mereka.

Banyak petani yang sebelumnya sempat berhenti atau gantung tali akibat anjloknya harga kini mulai kembali menebar bibit pada Kamis (16/04/26).

Fenomena kembalinya para petani ke laut ini dipicu oleh harga jual rumput laut kering yang menyentuh angka 17.000 rupiah per kilogram. Kondisi ini berbanding terbalik dengan keadaan pada Desember 2025 yang saat itu harganya jauh lebih rendah.

Gairah Baru di Kampung Mamolo

Kamaruddin selaku pengusaha sekaligus petani rumput laut menyebutkan bahwa kenaikan harga ini mulai terasa sejak Maret 2026. Di wilayah pusat produksi seperti Kampung Mamolo harga kini stabil pada kisaran 15.000 hingga 17.000 rupiah.

Baca juga  Jembatan di Krayan Selatan Putus, Tujuh Desa Terisolasi dan Stok BBM Terancam Habis

Membaiknya harga jual tersebut menjadi alasan utama bagi para petani untuk kembali menghidupkan bentangan tali mereka di laut. Hal ini didorong oleh kuatnya nilai tukar dolar serta cuaca panas terik yang sangat mendukung proses produksi.

“Dolar naik jadi berkah buat kami, begitu pula cuaca panas sangat mendukung bagi petani,” kata Kamaruddin.

Efek Domino pada Upah Pekerja

Meningkatnya aktivitas budidaya ini secara otomatis meningkatkan permintaan tenaga kerja pengikat bibit atau mabentang di pesisir Nunukan.

Baca juga  Jokowi Bakal Ngantor di IKN, 40 Hari Jelang Akhir Masa Jabatan

Kondisi tersebut memaksa adanya penyesuaian upah bagi para pekerja lokal yang terlibat dalam proses produksi.

Upah pekerja pengikat bibit kini naik menjadi 10.000 rupiah sementara pekerja gesek tali naik menjadi 2.500 rupiah per bentang.

Tingginya gairah kerja ini didukung oleh permintaan pasar yang tetap stabil dari wilayah Sulawesi dan Surabaya.

“Pembeli rumput laut tambah banyak, tinggal kemampuan dari petani dan pengusaha Nunukan menyiapkan rumput laut,” ujar Kamaruddin.

Keberlanjutan dan Tantangan Lingkungan

Baca juga  Anggota DPR RI Rahmawati Dorong Nunukan Jadi Kota Dagang melalui Produk UMKM

Meskipun aktivitas di laut kembali padat para petani diingatkan untuk tetap menjaga standar mutu agar bisa bersaing dengan daerah lain.

Selain itu masalah kebersihan perairan akibat limbah pelampung botol plastik kini menjadi perhatian serius demi keberlanjutan usaha.

Petani diminta memiliki kesadaran mandiri untuk tidak membuang sampah botol bekas pelampung secara sembarangan di sepanjang garis pantai.

Langkah ini penting agar lingkungan laut tetap terjaga dan tidak merugikan masyarakat luas dalam jangka panjang.

“Petani harus punya kesadaran diri menjaga lingkungan, jangan sampai sampah kita merugikan orang banyak,” tutup Kamaruddin.(*/Fawdi/NT)

Bagikan:
Berita Terkait