Target Bupati Kubar Frederick Edwin Hapus Status Kampung Tertinggal di Kecamatan Bongan

diterbitkan: Kamis, 4 Juni 2026 07:21 WITA
Bupati Kubar Frederick Edwin sat jumpa pers terkait sejumlah program priosritas daerah.

NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Pemkab Kubar) menaruh perhatian penuh terhadap pemerataan status kemandirian desa di wilayah pedalaman.

Langkah strategis kini ditempuh dengan menempatkan proyek pembangunan akses jalan menuju tiga kampung di Kecamatan Bongan sebagai skala prioritas utama dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Upaya penggempuran infrastruktur tersebut sengaja dilakukan demi membuka isolasi wilayah secara permanen. Pemkab Kubar menargetkan percepatan peningkatan status jajaran kampung tersebut agar dapat mengakses fasilitas pelayanan publik dan kue pembangunan secara lebih optimal.

Pacu Indeks Desa Membangun Menuju Kampung Mandiri

Bupati Kutai Barat, Frederick Edwin, membeberkan fakta bahwa berdasarkan rapor Indeks Desa Membangun (IDM) hingga tahun anggaran 2026 ini, Kabupaten Kutai Barat masih menyisakan kantong-kantong wilayah prasejahtera.

Adapun titik episentrum wilayah yang masih menyandang status merah tersebut terpusat di satu koridor Kecamatan Bongan, yakni Kampung Deraya, Kampung Tanjung Soke, dan Kampung Gerunggung.

Baca juga  Sinergi Jaga Keseimbangan Ekosistem, Bupati Sri Ajak Masyarakat Berau Peduli Lingkungan

Di sisi lain, sebuah capaian positif telah ditunjukkan oleh Kampung Lemper yang berada dalam satu klaster jalur, di mana kampung tersebut berhasil melepaskan diri dan naik kelas menjadi Kampung Berkembang sejak tahun 2025 lalu.

“Sebagaimana kita ketahui bersama, di wilayah Kabupaten Kutai Barat masih ada kampung dengan status tertinggal. Kampung ini berada di Kecamatan Bongan, yang mana antara lain tiga kampung tersebut adalah Kampung Deraya, Kampung Tanjung Soke, dan Kampung Gerunggung. Sedangkan Kampung Lemper telah menjadi Kampung Berkembang sejak tahun 2025,” ungkap Frederick dalam konferensi pers di Kantor Bupati Kutai Barat, Kamis (4/6/2026).

Berdasarkan data konsolidasi bersih dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) per tahun 2025, tercatat sedikitnya ada 759 jiwa yang bermukim di empat kampung pedalaman tersebut.

Struktur sosiologis seluruh warga di sana sangat bergantung pada satu koridor jalan sepanjang 45 kilometer yang menghubungkan pemukiman mereka dengan urat nadi jalan poros Trans Kalimantan.

Baca juga  Bupati Berau Tekankan Peran ASN Sebagai Pelayan Masyarakat di Peringatan HUT ke-54 KORPRI

Hapus Kendala Jalan Tanah Sepanjang 34 Kilometer

Tantangan utama yang dihadapi Pemkab Kubar dalam mendongkrak ketertinggalan ini adalah kondisi eksisting jalan. Dari total panjang 45 kilometer dari simpang Trans Kalimantan menuju titik akhir di Gerunggung, bentangan jalan yang sudah kokoh dalam bentuk aspal dan semenisasi (beton) baru menyentuh angka 10,17 kilometer.

Sementara itu, sisa sepanjang 34,83 kilometer lainnya dilaporkan masih berupa struktur jalan tanah agregat kasar yang sangat rentan lumpuh total ketika intensitas hujan tinggi melanda pedalaman bumi Tanaa Purai Ngeriman.

Kondisi geografis yang ekstrem inilah yang diidentifikasi menjadi faktor penghambat utama serapan pelayanan kesehatan, sirkulasi guru dan pendidikan, hingga tersendatnya geliat ekonomi hilir masyarakat.

Guna mengatasinya, Frederick Edwin menegaskan bahwa pemkab terus melakukan penetrasi anggaran secara bertahap sejak 2017 hingga 2025 dengan total rekonstruksi jalan pemda sepanjang 8,25 kilometer serta jembatan penghubung darurat.

Baca juga  Gara-gara Bahas Pencairan BPJS, Pemuda di Kubar Malah Habisi Nyawa Teman

\Di tahun 2026 ini, daya dorong pembangunan dipastikan berlipat ganda menyusul masuknya suntikan dana segar dari APBD Provinsi Kalimantan Timur untuk pengerjaan jalan poros Bongan–Gerunggung.

Bagi Frederick, konektivitas jalan yang mantap merupakan satu-satunya instrumen paling rasional untuk mengonversi status kampung tertinggal kubar menjadi berkembang, maju, dan mandiri.

“Penanganan terhadap ruas konektivitas tentunya memberikan dampak yang signifikan karena akan membuka dan memberikan peningkatan akses pelayanan publik lainnya seperti air bersih dan sanitasi, listrik, peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, serta peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat,” lanjutnya.

Pemkab Kubar meyakini tolok ukur kesuksesan pembangunan daerah tidak hanya dipandang dari megahnya gedung perkotaan, melainkan dari merdekanya masyarakat pedalaman dari jerat keterisolasian fisik.

“Menjadi harapan kita bersama bahwa 190 kampung yang tersebar di Kabupaten Kutai Barat dapat terus memacu diri dan meningkatkan statusnya secara kolektif menjadi Kampung Berkembang, Maju, dan Mandiri,” pungkas Frederick optimistis.(ADV/Diskominfo Kubar)

Bagikan:
Berita Terkait