Imbas Konflik Timur Tengah Bikin Harga Bensin di Amerika Naik Drastis

diterbitkan: Jumat, 6 Maret 2026 02:42 WITA
Menurut AAA, kenaikan terbaru itu membuat rata-rata nasional berada pada tingkat harga yang sama seperti pada awal April 2025.

NUSANTARA TERKINI – Warga Amerika Serikat kini harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bahan bakar sehari-hari. Harga rata-rata bensin reguler secara nasional melonjak drastis hampir 27 sen menjadi 3,25 dolar AS per galon.

Lonjakan harga mingguan setajam ini diklaim sebagai rekor terburuk dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. American Automobile Association membandingkan situasi pelik tersebut dengan awal mula krisis energi global.

Baca juga  Imbas Selat Hormuz Ditutup, Indonesia Alihkan Impor Minyak ke AS

“Kali terakhir rata-rata nasional mencatat lonjakan mingguan serupa adalah pada Maret 2022,” sebut pernyataan American Automobile Association pada Kamis (5/3/2026).

Kenaikan harga ini menarik mundur rata-rata tarif nasional ke level yang sama seperti awal April tahun lalu. Tingginya permintaan bensin campuran musim panas menjelang musim semi makin memperparah kondisi pasar domestik.

Gejolak Timur Tengah Cekik Ekonomi

Kekacauan pasar energi bermula dari aksi militer Amerika Serikat dan Israel yang menggempur wilayah Iran. Serangan tersebut memicu langkah balasan dari Iran yang secara efektif memblokade lalu lintas perairan Selat Hormuz.

Baca juga  Pelabuhan Kayan II Go Digital, Beli Tiket Sudah Bisa Tanpa Uang Tunai

Imbas penutupan itu sangat fatal karena jalur laut tersebut melayani seperempat dari total perdagangan minyak dunia. Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman April langsung meroket melampaui 81 dolar AS per barel.

Angka penutupan bursa tersebut melonjak 8,51 persen sekaligus memecahkan rekor harga tertinggi sejak Juli dua tahun silam. Lembaga perbankan investasi Stifel memprediksi blokade berkepanjangan bisa mendorong harga minyak mentah menembus 100 dolar AS per barel.

Baca juga  Duel Spanyol Lawan Argentina di Qatar Batal, Buntut Konflik Timur Tengah

Situasi kelam ini dipastikan memicu kenaikan inflasi indeks harga konsumen serta memperketat tekanan kredit bagi masyarakat. Ekonomi warga Amerika akan makin tercekik persis seperti kepanikan saat pecahnya perang di Eropa timur.

Bagikan:
Berita Terkait