Tak Hanya Jual Pemandangan, Berau Siap Jadi “Kampus Alam” bagi Peneliti Global

diterbitkan: Senin, 20 April 2026 04:11 WITA
Puncak Ketepu di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay.
Puncak Ketepu di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay. (Foto: Instagram Kelay Asik)

NUSANTARA TERKINI – Kabupaten Berau kini tengah bersiap melepas label sebagai daerah yang hanya mengandalkan keelokan panorama wisatanya.

Di bawah kepemimpinan Bupati Sri Juniarsih Mas, Bumi Batiwakkal mulai bersolek untuk menjadi “kampus alam” alias laboratorium riset bagi para ilmuwan internasional, khususnya dalam mengkaji ekosistem kawasan karst yang unik.

Ambisi besar ini diwujudkan melalui penguatan regulasi yang menyasar hingga level teknis. Langkah tersebut bertujuan memberikan kepastian hukum dan kenyamanan bagi peneliti dunia agar tidak lagi ragu menjadikan Berau sebagai objek studi utama mereka.

Baca juga  Temukan Puing Diduga Komponen Satelit saat Antar Tamu, 2 Nelayan Derawan Lakukan Evakuasi Tengah Malam

“Kalau regulasi kita kuat sampai ke unit paling bawah, maka kepercayaan peneliti akan meningkat. Ini bisa membuka peluang besar bagi Berau untuk dikenal di tingkat internasional,” tegas Sri Juniarsih, Senin (20/4/2026).

Menjual Data di Balik Keindahan

Selama ini, kawasan karst di Berau lebih dikenal sebagai destinasi petualangan dan swafoto. Namun, di balik dinding-dinding batu kapur tersebut, tersimpan kekayaan data prasejarah, biodiversitas, hingga sistem hidrologi yang sangat mahal bagi dunia ilmu pengetahuan.

Bupati menekankan bahwa kejelasan aturan hingga tingkat Unit Pelaksana Teknis (UPT) adalah kunci. Dengan regulasi yang mapan, aktivitas riset tidak akan lagi terbentur birokrasi yang membingungkan, sehingga arus kolaborasi internasional bisa mengalir lebih deras.

Baca juga  Berau Siap Laksanakan Musdes Koperasi Merah Putih, Wabup Gamalis Minta Penguatan dari Pusat

“Kita ingin Berau tidak hanya dikenal sebagai tempat liburan, tetapi juga sebagai pusat riset yang diperhitungkan di kancah global,” tambahnya.

Dampak Nyata bagi Masyarakat

Transformasi dari destinasi wisata menjadi pusat riset dunia ini diyakini akan memberikan efek domino bagi warga lokal.

Kedatangan peneliti asing bukan sekadar soal pertukaran ilmu, melainkan juga potensi peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal dan penguatan ekonomi melalui sektor jasa pendukung riset.

Baca juga  Sektor Pertanian Masuk dalam Lima Lapangan Usaha Penyumbang Terbesar Pertumbuhan Ekonomi Kaltara

Meski begitu, Sri Juniarsih mengingatkan bahwa visi menjadikan Berau sebagai pusat riset dunia bukan “kerja satu malam”. Perlu ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan agar setiap aturan yang dibuat benar-benar efektif di lapangan.

“Kita perlu saling mendukung dan mengingatkan agar setiap langkah pembangunan berjalan baik dan memberi manfaat luas bagi semua,” tutupnya.(Ika/NT)

Bagikan:
Berita Terkait