Jangan Terlena Harga Murah! Kemarau Juli-Agustus Bisa Bikin Dapur Warga Balikpapan Kembali Panas

diterbitkan: Selasa, 5 Mei 2026 08:33 WITA
Pasar tradisonal di Balikpapan

NUSANTARA TERKINI – Kabar baik mengenai melandainya harga pangan di Kota Balikpapan pasca-Lebaran dibayangi peringatan dini.

Meski April 2026 mencatatkan deflasi tipis sebesar 0,05 persen (mtm), masyarakat diminta tetap waspada terhadap ancaman kenaikan harga yang diprediksi terjadi pada pertengahan tahun akibat faktor cuaca.

Turunnya harga komoditas utama seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan ikan layang saat ini memang memberi ruang napas bagi keuangan rumah tangga.

Namun, kestabilan ini bersifat sementara karena ancaman musim kemarau Juli–Agustus 2026 mulai mengintai ketahanan pangan kota.

Baca juga  Bukti Kualitas Global, Kakao Berau Berhasil Pikat Valrhona dan Industri Cokelat Belanda

“Kondisi saat ini relatif stabil berkat pasokan yang normal dan cuaca yang membaik bagi nelayan. Namun, risiko ke depan tetap ada, terutama saat memasuki puncak musim kering,” sebagaimana dikutip dari analisis data ekonomi terkini BPS Kaltim.

Ancaman Kemarau dan Suplai dari Jawa

Kekhawatiran utama terletak pada potensi gangguan produksi pertanian di Pulau Jawa, yang selama ini menjadi pemasok utama pangan bagi Balikpapan.

Musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal di Jawa akan berdampak langsung pada volume pengiriman barang ke Kalimantan Timur.

Baca juga  Saat Laut Nunukan Kembali Dipenuhi Tali Rumput Laut, Usai Harga Jual Tembus Rp17 Ribu

Jika pasokan tertekan, maka harga-harga diprediksi akan kembali melonjak, mengulang siklus inflasi tinggi yang sebelumnya terjadi saat momentum hari besar.

Selain cuaca, kenaikan harga avtur yang sudah mulai mendongkrak tarif pesawat juga menjadi beban tambahan bagi biaya logistik secara keseluruhan.

Strategi Mitigasi: Tanam Cabai hingga Operasi Pasar

Guna mencegah “panasnya” harga di dapur warga saat kemarau nanti, sejumlah langkah antisipatif mulai digencarkan di Balikpapan maupun wilayah tetangga seperti Penajam Paser Utara (PPU).

Beberapa strategi yang disiapkan pemerintah daerah meliputi:

  • Penguatan Produksi Lokal: Program tanam cabai, padi, dan jagung secara mandiri di tingkat masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada luar daerah.
  • Intervensi Pasar: Mengintensifkan pasar murah dan operasi pasar secara berkala guna menjaga daya beli.
  • Kelancaran Distribusi: Memperkuat kerja sama pasokan antar-daerah (KAD) untuk menjamin stok tetap tersedia meskipun cuaca buruk melanda jalur pengiriman.
Baca juga  Masuki Tahap Akhir TA Revamp, KPI Balikpapan Siap Aktifkan Kilang Raksasa

Masyarakat diharapkan mulai bijak dalam menata belanja harian dan memanfaatkan program pasar murah yang disediakan pemerintah untuk mengantisipasi gejolak harga di masa mendatang.(Wane/NT)

Bagikan:
Berita Terkait