Katanya Wisata “Premium”, Tapi Sinyal di Maratua Masih Sering Hilang-Hilangan

diterbitkan: Sabtu, 9 Mei 2026 08:27 WITA
Maratua, Internet
Wisawatan yang berkunjung ke Maratua saat mencari jaringan internet. (Foto: Zuhri/NT)

NUSANTARA TERKINI – Pulau Maratua di Kabupaten Berau terus dipromosikan sebagai destinasi wisata premium dengan keindahan bawah laut yang diklaim tak kalah cantik dari Maladewa.

Namun, predikat mewah tersebut dinilai belum sebanding dengan infrastruktur digital yang tersedia. Hingga kini, jaringan internet di empat kampung yang ada di pulau terluar ini masih sering hilang, yang memicu keluhan dari wisatawan hingga pelaku usaha lokal.

Kondisi ini menciptakan ironi besar. Di saat pemerintah daerah gencar mengajak wisatawan nasional maupun mancanegara berkunjung, fasilitas dasar seperti koneksi internet stabil justru sulit didapatkan.

Hal ini dirasakan langsung oleh Ari, seorang wisatawan lokal yang baru saja berkunjung ke Maratua.

“Sangat kontras ya, judulnya wisata premium tapi sinyalnya masih ‘byur-pet’. Kita di sini mau koordinasi atau sekadar berbagi momen di media sosial saja susahnya minta ampun. Sinyal sering tiba-tiba hilang total, lalu muncul sebentar, kemudian hilang lagi,” ungkap Ari dengan nada kecewa.

Baca juga  Pemuda Tani Indonesia Kaltim Resmi Dilantik, Fokus pada Swasembada Pangan dan Inovasi Pertanian

Menurut Ari, kualitas internet yang buruk sangat memengaruhi citra Maratua di mata turis, terutama wisatawan asing yang tetap harus terkoneksi dengan pekerjaan atau keluarga mereka secara daring.

Selain itu, era digital saat ini penggunaan media sosial untuk memprosikan wisata bawah laut Maratua sangat penting dilakukan. Tetapi jika tidak didukung dengan fasilitas yang memadai tentu perkebangan wisata premium di Maratua sedikit melambat.

“Derawan sudah mendapatkan penambahan kekuatan sinyal dari Telkom Indonesia akibat sering lelet saat puncak liburan, nah jangan lupakan Maratua,”harapnya.

Baca juga  Berau Kalah dari Malinau, Kumpulkan Dana CSR Rp8 Miliar Bikin Event Tanpa APBD

Penghambat Utama Digitalisasi UMKM

Dampak buruk dari jaringan internet yang tidak stabil ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh pelancong. Sektor ekonomi kerakyatan, khususnya UMKM lokal di Maratua, menjadi pihak yang paling dirugikan.

Cita-cita pemerintah agar UMKM Maratua go digital terancam sekadar menjadi wacana.

Banyak perajin dan pedagang lokal yang mulai mencoba merambah pasar e-commerce, namun seringkali gagal bertransaksi akibat aplikasi yang tidak bisa diakses imbas internet buruk.

“UMKM lokal di sini sebenarnya punya produk luar biasa yang layak dijual ke luar. Tapi kalau untuk mengakses marketplace saja butuh waktu berjam-jam karena sinyal tidak stabil, bagaimana mereka bisa bersaing? Alhasil, mereka kembali lagi ke cara konvensional karena kesulitan masuk ke pasar digital,” tambah Ari.

Baca juga  Ahmad Rifai Ingatkan Pentingnya Pendataan Aset Daerah, Hindari Sengketa di Masa Depan

Desakan Perbaikan Infrastruktur Digital

Kelangkaan sinyal yang stabil ini dianggap sebagai penghambat akselerasi pembangunan di Maratua.

Masyarakat dan wisatawan mendesak agar pemerintah pusat maupun daerah memberikan perhatian lebih pada penyediaan BTS (Base Transceiver Station) atau teknologi internet satelit yang lebih mumpuni.

Tanpa dukungan internet yang memadai, status “Wisata Premium” Pulau Maratua dikhawatirkan hanya akan menjadi slogan semata, sementara potensi ekonomi digital dari sektor pariwisata dan UMKM terus menguap akibat kendala teknis yang tak kunjung teratasi.(Red/NT)

Bagikan:
Berita Terkait