KPw BI Tegaskan Ekonomi Kaltim Fokus di Energi Terbarukan dan Industri Hijau

diterbitkan: Kamis, 3 Juli 2025 06:17 WITA
Potret udara salah satu kawasan pertambangan di Samarinda

SAMARINDA – Pemprov Kaltim terus menyusun ulang fokus arah perekonomiannya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Kaltim pada sektor pertambangan Batu Bara. Setelah bertahun-tahun ditopang batu bara, kini Kaltim mulaiu menggeser fokus pembangunan menuju sektor yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kaltim, Budi Widihartanto, menyebut transformasi ini sebagai keharusan strategis. Menurutnya, meski batu bara masih mendominasi struktur ekonomi daerah, tapi arah masa depan tak lagi berpihak pada sumber daya yang tidak terbarukan.

Baca juga  Pemkab Berau Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Penguat Ketahanan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat Desa

“Ekonomi kita tidak bisa lagi bergantung pada batu bara yang tak terbarukan. Kaltim harus mulai membangun dari sektor-sektor yang memiliki nilai tambah dan keberlanjutan,” tuturnya.

Salah satu langkah yang kini ditempuh Pemprov Kaltim adalah penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang menekankan akselerasi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Targetnya tak main-main, bauran EBT sebesar 70 persen pada tahun 2030.

Baca juga  Kapasitas 5 Ton Per Hari, Rumah Produksi Pakan di Kukar Jadi Pilot Project Hilirisasi Kaltim

Komitmen ini juga dibarengi pembentukan Tim Transformasi Ekonomi yang dikoordinasikan oleh Bappeda dan sudah ditetapkan melalui keputusan gubernur. Namun di lapangan, perubahan tak semudah yang dibayangkan.

“Masalah utamanya ada di hilirisasi. Kita sudah punya pertambangan yang mapan, tapi pengolahan dan industrialisasi batu bara, apalagi yang ramah lingkungan, masih sangat kurang,” terang Budi.

Ia membandingkan kondisi ini dengan sektor minyak dan gas bumi (migas) yang sudah relatif lebih siap di sektor hilir. Sementara di sektor batu bara, potensi yang besar belum diimbangi dengan infrastruktur industri yang memadai.

Baca juga  Migas Kaltim "Ngegas" Sendirian, Sektor Lain Malah Tertinggal di Belakang

Di tengah realitas itu, Bank Indonesia kini berupaya mendorong arah investasi ke sektor-sektor baru yang lebih produktif dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), BI meluncurkan program Regional Investor Relation Unit (RIRU).

Bagikan:
Berita Terkait