NUSANTARA TERKINI – Kota Balikpapan tengah menghadapi ancaman serius di balik status strategisnya sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Rendahnya kemampuan literasi dan pemahaman informasi dikhawatirkan akan membuat Sumber Daya Manusia (SDM) lokal hanya menjadi penonton di tengah masifnya peluang ekonomi yang hadir.
Peringatan keras ini muncul dalam perhelatan Festival Literasi Balikpapan ke-5 di Gedung Kesenian Balikpapan, Jumat (10/4/2026).
Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan menyoroti bahwa literasi bukan lagi sekadar persoalan bisa mengeja huruf, melainkan kemampuan mendalam dalam mengolah informasi menjadi tindakan nyata.
“Kalau kita memahami literasi hanya sebagai membaca, mungkin itu sudah selesai. Tapi bagaimana memahami dan mempraktikkan apa yang dibaca, ini yang masih menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” tegas Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan, Elvin Junaidi.
Ancaman Tersingkir di Rumah Sendiri
Kekhawatiran Elvin bukan tanpa alasan. Sebagai kota yang paling dekat dengan IKN, Balikpapan akan dibanjiri oleh tenaga kerja yang kompetitif dan adaptif dari luar daerah.
Jika masyarakat lokal masih terjebak pada budaya membaca singkat tanpa pemahaman kritis, maka kapasitas diri warga tidak akan meningkat.
Kondisi literasi yang rendah berdampak langsung pada lambatnya adaptasi terhadap teknologi dan ketidakmampuan menyerap pengetahuan baru.
Hal ini menjadi celah bagi tenaga kerja luar daerah untuk mengisi posisi-posisi strategis di kawasan IKN yang membutuhkan kompetensi tinggi.
“Kalau kita ingin menjadi SDM yang maju, minat baca ini harus kita tumbuhkan. Ini bukan hal mudah dan membutuhkan kerja sama semua pihak,” tambah Elvin.
Gerakan 180 Sekolah
Menanggapi ancaman krisis tersebut, Pemkot Balikpapan telah menggerakkan 180 sekolah mulai dari jenjang SD hingga SMA untuk membangun budaya literasi sejak dini.
Program yang berjalan sejak 2024 hingga April 2026 ini berfokus pada proses pembelajaran yang aktif antara guru dan siswa.
Koordinator Festival Literasi Balikpapan, Vina Dwi Losari, mengungkapkan bahwa hingga saat ini tercatat ada 11.630 karya tulisan dan buku antologi yang dihasilkan oleh siswa dan guru.
Capaian ini menjadi sinyal positif, namun ia menegaskan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari jumlah karya.
“Tantangan utama tetap berada pada kebiasaan membaca yang konsisten dan bagaimana pengetahuan itu digunakan untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari,” tutur Vina.
Pemerintah berharap gerakan ini tidak berhenti sebagai seremoni festival tahunan, melainkan menjadi budaya di rumah dan sekolah.
Tanpa penguatan literasi yang nyata, kejayaan ekonomi di kawasan IKN dikhawatirkan hanya akan melewati warga Balikpapan tanpa memberikan dampak kesejahteraan yang berkelanjutan bagi penduduk lokal.(Wane/NT)






