Berau Darurat Stunting: 60 Persen Balita Tak Terpantau Posyandu, Bupati Sri Juniarsih Berang

diterbitkan: Kamis, 16 April 2026 09:20 WITA
Kegiatan pelayanan di salah satu Posyandu di Berau (Dok: Prokopim Berau)

NUSANTARA TERKINI — Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, memberikan peringatan keras terkait melonjaknya angka stunting di Kabupaten Berau yang kini mencapai 34 persen.

Angka ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena berada jauh di atas rata-rata nasional yang sebesar 20 persen, sekaligus mengungkap fakta bahwa mayoritas balita di Berau luput dari pantauan kesehatan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (SIGIZIKESGA) tahun 2025, dari total 23.105 balita di Berau, hanya sekitar 40,6 persen yang rutin melakukan pengukuran di posyandu.

Artinya, sekitar 60 persen atau belasan ribu balita di Bumi Batiwakkal “hilang” dari radar pemantauan tumbuh kembang.

Baca juga  Bukti Kualitas Global, Kakao Berau Berhasil Pikat Valrhona dan Industri Cokelat Belanda

“Masih ada sekitar 60 persen balita yang belum terpantau. Ini harus menjadi perhatian serius bagi kita semua,” tegas Sri Juniarsih.

Profesi Bukan Alasan untuk Abai

Bupati menekankan bahwa penanganan stunting adalah prioritas utama yang tidak bisa ditunda.

Ia secara khusus menyoroti latar belakang pengurus PKK yang beragam, mulai dari guru, pegawai bank, hingga karyawan perusahaan agar tidak menjadikan kesibukan profesional sebagai alasan untuk mengabaikan tugas organisasi dalam menggerakkan masyarakat ke posyandu.

Baca juga  Tiket Online Tentukan Nasib Tambahan Armada Bus Mudik Berau

Menurutnya, keberhasilan program kesehatan tidak menuntut waktu yang lama, melainkan kemampuan membangun komunikasi yang efektif dan cerdas.

“Latar belakang profesi jangan jadi kendala. Tidak perlu waktu lama, tapi bagaimana ibu-ibu bisa membangun komunikasi efektif dengan anggota dan posyandu. Keterbatasan waktu bukan alasan utama,” ujarnya mengingatkan.

Kejar Target Nasional 14 Persen

Kenaikan prevalensi stunting berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menjadi pukulan telak bagi pemerintah daerah.

Sri Juniarsih mendorong para ketua TP PKK untuk melakukan pertemuan rutin minimal satu kali sepekan guna memastikan program “jemput bola” terhadap balita yang belum terdata dapat berjalan maksimal.

Baca juga  Sufian Agus Dilantik PJ Gubernur Kaltim jadi Pjs Bupati Berau

Akses teknologi dan internet yang kini menjangkau hingga ke tingkat kampung harus dimanfaatkan untuk koordinasi lintas wilayah. Tanpa adanya pemantauan rutin di posyandu, deteksi dini risiko stunting mustahil dilakukan.

“Ini tugas kita bersama untuk mengejar target nasional penurunan stunting hingga 14 persen pada 2029. Saya berharap ibu-ibu menggerakkan seluruh anggota hingga ke tingkat bawah,” pungkasnya.(*/Andrikni/NT)

Bagikan:
Berita Terkait