Berau Naik Kelas, Bibit Udang Windu Lokal Kini Lebih Unggul dari Produk Luar

diterbitkan: Kamis, 14 Mei 2026 07:00 WITA
Udang Windu Berau
Warga Pegat Batumbuk saat memperlihatkan udang windu di tambak miliknya. (Foto: YKAN)

NUSANTARA TERKINI – Dinas Perikanan Kabupaten Berau mulai memprioritaskan pengembangan bibit udang windu lokal melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan.

Bibit hasil produksi mandiri ini diklaim memiliki kualitas dan daya tahan yang jauh lebih baik dibandingkan pasokan dari luar daerah.

Langkah ini diambil untuk memberikan kepastian bagi para petani tambak di Bumi Batiwakkal yang selama ini bergantung pada bibit kiriman.

Keberhasilan pembenihan lokal ini merupakan buah dari kerja sama strategis antara pemerintah daerah dengan SMKN 3 Tanjung Batu dalam hal pembaruan teknologi perikanan.

Minim Risiko Kematian

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengungkapkan bahwa salah satu masalah utama yang dihadapi petani selama ini adalah tingginya angka kematian (mortalitas) bibit dari luar daerah, termasuk pasokan dari Tarakan.

Baca juga  Cegah Tindakan Illegal Fishing, DPRD Berau Dorong Pemkab Libatkan Nelayan Sekitar

Jarak tempuh yang jauh dan waktu distribusi yang lama membuat bibit mengalami stres berat sebelum sampai ke kolam petani.

Kondisi tersebut mengakibatkan kerugian besar bagi pembudidaya karena angka kematian bisa mencapai lebih dari separuh jumlah bibit yang dipesan.

Dengan produksi lokal, jarak distribusi menjadi sangat singkat sehingga kesegaran dan kesehatan benur tetap terjaga.

“Kualitasnya lebih bagus daripada Tarakan. Karena kalau pengiriman jauh, tingkat mortalitas bisa mencapai 50-70 persen,” ujar Majid.

Baca juga  Bukanya Tobat, Kakek 64 Tahun di Talisayan Malah Sekap dan Cabuli Anak Dibawah Umur

Adaptasi Lingkungan yang Lebih Baik

Selain faktor jarak, bibit lokal dinilai memiliki kemampuan adaptasi atau aklimatisasi yang lebih baik terhadap kondisi air dan lingkungan di Berau.

Bibit yang diproduksi di Tanjung Batu secara alami sudah terbiasa dengan karakteristik air setempat, sehingga risiko stres saat ditebar di tambak dapat ditekan seminimal mungkin.

Keunggulan teknis inilah yang membuat tren di kalangan petani tambak mulai bergeser. Mereka kini lebih mempercayai bibit produksi UPT Tanjung Batu karena memberikan jaminan hasil panen yang lebih stabil dan risiko kegagalan yang lebih kecil di awal masa tebar.

“Dengan hadirnya bibit lokal, risiko kematian saat benur ditebar dapat ditekan secara signifikan,” tambahnya.

Baca juga  Rudy Mas’ud Tegaskan Program Pendidikan Gratis untuk Semua Kalangan

Permintaan Melejit Hingga Kewalahan

Tingginya kualitas bibit udang windu lokal ini memicu lonjakan permintaan yang luar biasa. Meski kapasitas produksi saat ini masih dalam tahap pengembangan, para pembudidaya dari berbagai wilayah di Berau rela mengantre demi mendapatkan bibit unggulan ini.

Bahkan, fasilitas pembenihan (hatchery) di Tanjung Batu dilaporkan sempat kewalahan melayani pesanan yang terus mengalir.

Hal ini menjadi bukti nyata bahwa bibit lokal kini menjadi primadona baru yang diharapkan mampu membangkitkan kejayaan udang windu di Kabupaten Berau.

“Peminatnya alhamdulillah banyak, sampai hatchery di Tanjung Batu kewalahan,” pungkas Majid.(*Red/NT)

Bagikan:
Berita Terkait