SAMARINDA – Sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau. Namun, menurut pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kalau Kota Samarinda masih berpotensi diguyur hujan hingga 10 hari ke depan.
Hal ini terjadi karena Kaltim, termasuk Samarinda masih berada dalam masa peralihan atau pancaroba. Staf Operasional BMKG Samarinda Muhammad Abil Nurjani menjelaskan, wilayah Kalimantan saat ini dikategorikan mengalami kemarau normal, berbeda dengan beberapa wilayah Indonesia lainnya yang mengalami kemarau basah atau kemarau kering.
“Prediksi dari BMKG pusat kan ada tiga sifat musim kemarau yakni kemarau basah, kemarau kering dan kemarau normal karena di Kalimantan tergolong kemarau normal sebenarnya,” terang Abil.
Meskipun puncak musim kemarau di Kaltim diperkirakan akan terjadi pada akhir Juli hingga Agustus, saat ini wilayah Samarinda dan sekitarnya masih dalam fase transisi. Cuaca cenderung tidak menentu, ditandai dengan potensi hujan yang masih cukup tinggi.
“Untuk saat ini Kaltim dan seluruh wilayah Indonesia kemungkinan masih ada di zona peralihan pancaroba. Artinya benar-benar masuk dengan intensitas hujan berkurang, itu prediksi kami untuk awal musim kemarau masuk di Juli akhir,” jelasnya.
Menurut prakiraan cuaca BMKG, selama 10 hari ke depan Samarinda masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas menengah, yakni berkisar antara 50–150 mm. Peluang terjadinya hujan bahkan mencapai 80 hingga 90 persen. Selain hujan, cuaca berawan tebal dan hujan ringan juga diperkirakan akan sering terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Hal ini turut dipengaruhi oleh suhu permukaan laut yang hangat di wilayah Selat Makassar, yang mendorong pembentukan awan di wilayah pesisir termasuk Anggana, Penajam dan Balikpapan.





