Hadapi Kemarau Mei-Oktober, Pemkab Berau Siapkan Pompa Air dan Embung bagi Petani

diterbitkan: Rabu, 22 April 2026 12:25 WITA
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau. foto: Internet.

NUSANTARA TERKINI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau bergerak cepat mengantisipasi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi melanda mulai Mei hingga Oktober 2026.

Fokus utama mitigasi kali ini adalah mengamankan sektor pertanian agar produktivitas pangan di Bumi Batiwakkal tetap terjaga meskipun cuaca ekstrem mengintai.

Langkah strategis ini diperkuat setelah Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Mitigasi Kekeringan Lahan bersama Kementerian Pertanian RI di Jakarta, Senin (20/4/2026).

Musim kemarau tahun ini diperkirakan menjadi salah satu yang terpanas, sehingga kesiapan infrastruktur pengairan menjadi harga mati.

Baca juga  Ribuan Telur Penyu Curian Gagal Menetas

Bupati Sri Juniarsih menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menyiagakan berbagai perangkat pendukung untuk membantu petani bertahan di tengah krisis air.

“Kami siap menindaklanjuti arahan pusat. Langkah mitigasi di lapangan terus diperkuat agar dampak kemarau panjang dapat diminimalisir, khususnya bagi para petani kita,” ujar Sri Juniarsih.

Perkuat Infrastruktur Pengairan

Sebagai bentuk aksi nyata, Pemkab Berau telah melakukan perbaikan masif pada sistem irigasi persawahan. Sejumlah bantuan teknis mulai dari sistem perpompaan, perpipaan, hingga pembangunan embung telah disiapkan di titik-titik sentra produksi padi.

Baca juga  Sahur Bareng Pejuang Rupiah, Bupati Berau Serahkan Ratusan Paket Sembako

Tak hanya itu, pembangunan parit dam juga menjadi prioritas untuk menampung cadangan air cadangan. Di tingkat kecamatan, pemerintah melakukan pemeliharaan jaringan irigasi tersier di empat wilayah yang menjadi lumbung pangan Berau.

“Kami juga menyiapkan sarana pascapanen berupa alat panen dan mesin pengering (dryer) dengan kapasitas 10 ton. Ini penting untuk memastikan hasil panen tetap berkualitas meski cuaca tidak menentu,” tambahnya.

Tantangan Intrusi Air Laut

Meski infrastruktur terus digenjot, Bupati mengakui adanya tantangan alam yang cukup berat di beberapa wilayah pesisir, yakni intrusi air laut ke lahan persawahan. Kondisi ini menyebabkan sawah terancam tidak dapat dipanen karena kadar garam yang tinggi.

Baca juga  Miris! 2025 Pendapatan Berau Tembus Rp5 Triliun, Tapi 59 Persen Jalan Masih Rusak Berat

Menyikapi hal tersebut, Pemkab Berau telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mendapatkan dukungan anggaran tambahan.

Saat ini, pemerintah daerah tengah mempercepat proses administrasi agar bantuan dari pusat bisa segera cair dan diaplikasikan di lapangan.

Melalui sinergi antara pembangunan fisik dan dukungan bantuan pusat, Pemkab Berau optimistis ketahanan pangan daerah tidak akan goyah.

Kesejahteraan petani tetap menjadi prioritas utama dalam menghadapi siklus kemarau panjang tahun ini.(Ika/NT)

Bagikan:
Berita Terkait