NUSANTARA TERKINI – Realisasi investasi di Kabupaten Berau sepanjang tahun 2025 mencatatkan angka yang fantastis. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Berau melaporkan capaian investasi berhasil menembus hampir 200 persen dari target yang ditetapkan.
Namun, di balik angka gemilang tersebut, tersimpan risiko ketergantungan ekonomi yang cukup mengkhawatirkan.
Hingga April 2026, arus modal yang masuk ke Bumi Batiwakkal terpantau masih sangat didominasi oleh sektor ekstraktif, yakni pertambangan dan perkebunan kelapa sawit.
Sementara itu, sektor-sektor berkelanjutan seperti pariwisata dan industri pengolahan masih tertinggal jauh di belakang.
Ketimpangan Sektor Jadi Catatan Merah
Kepala DPMPTSP Berau, Nanang Bakran, mengakui bahwa tingginya angka investasi belum sepenuhnya linear dengan pemerataan pertumbuhan ekonomi di seluruh lapisan masyarakat.
Adanya ketimpangan antar sektor ditengarai menjadi penyebab utama mengapa dampak investasi triliunan rupiah tersebut belum terasa merata.
“Target investasi kita sebenarnya sekitar 4,5 persen, tapi realisasinya hampir mencapai 200 persen. Secara logika, daya beli masyarakat seharusnya terdorong. Namun, kita melihat ada sektor yang masih timpang, terutama sektor non-unggulan,” ungkap Nanang, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, dominasi tambang dan sawit membuat postur ekonomi Berau sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Jika salah satu sektor ini goyang, stabilitas ekonomi daerah akan langsung terancam.
Pariwisata Belum Jadi “Primadona” Investor
Salah satu sektor yang paling disorot adalah pariwisata. Meski promosi keindahan alam Berau telah dilakukan secara masif melalui berbagai platform media sosial, kontribusi investasinya terhadap angka makro daerah masih tergolong minim.
Nanang menilai, tantangan utama bukan lagi pada urusan promosi, melainkan pada penguatan manajemen dan ekosistem pendukung.
Hingga saat ini, belum muncul agen atau pelaku industri pariwisata besar yang mampu menonjol dan menarik minat investor kelas kakap secara konsisten.
“Promosi sudah tugas kami dan sudah maksimal. Tapi mungkin yang perlu diperkuat adalah manajemen pariwisatanya agar benar-benar siap menerima investasi besar,” tambahnya.
Mendorong Strategi Diversifikasi
Menyikapi kondisi tersebut, DPMPTSP Berau berkomitmen untuk menyusun strategi lanjutan guna mendorong pemerataan investasi.
Fokus ke depan adalah bagaimana mengarahkan minat investor ke sektor pariwisata, perikanan, dan industri kreatif agar pertumbuhan ekonomi Berau lebih seimbang dan berkelanjutan.
Langkah diversifikasi ini dianggap mendesak agar Berau tidak lagi bergantung pada sektor yang merusak lingkungan, melainkan mulai beralih ke ekonomi hijau yang lebih ramah bagi masa depan Bumi Batiwakkal.(*Andrikni/NT)





